Rabu, 16 Agustus 2017

Google bayar Samsung buat perangkat Galaxy


Samsung Electronics pada hari Senin (14/8) kemarin mengumumkan bahwa mereka sedang dalam pembicaraan negosiasi dengan Google untuk memperbarui perjanjian kontrak dan biaya lisensi buat tiap perangkat Galaxy yang mereka jual.

Menurut seorang juru bicara dari Samsung Electronics di Korea, perusahaannya mungkin bisa menerima biaya lisensi yang lebih tinggi dari Google sebagai imbalan untuk menjaga mesin pencari milik Google tetap dijadikan sebagai default pada smartphone dan tablet Galaxy jika negosiasi saat ini berjalan dengan baik.

Negosiasi yang sedang berjalan ini terungkap setelah Toni Sacconaghi dari Bernstein Research mengatakan dalam sebuah catatan kepada investor bahwa dia yakin Google diperkirakan akan membayar Apple sekitar $3 miliar (setara 40 triliun rupiah) untuk biaya lisensi tahun ini, naik dari $1 miliar (setara 13 triliun rupiah) dari kesepakatan tiga tahun lalu.

"Samsung telah menerima sejumlah biaya komisi yang tidak diungkapkan dari Google, yang telah memanfaatkan pendapatan iklan dari berbagai aplikasi Android default, termasuk didalamnya mesin pencarian Google, sejak masa-masa awal smartphone Galaxy," kata juru bicara Samsung ini. "Sudah menjadi kebiasaan bahwa produsen smartphone lain mendapatkan biaya lisensi dalam berbagai ukuran secara reguler dari Google."

Kedua perusahaan menandatangani perjanjian distribusi aplikasi seluler pada tahun 2011 di mana Google mewajibkan pembuat ponsel yang menggunakan OS Android dari Google menetapkan Google Search sebagai default di home screen dan untuk mesin pencarian tunggal jika mereka ingin mendapatkan akses ke toko aplikasi Google Play Store di perangkat mereka.

"Perundingan untuk memperbarui kontrak terus berlanjut," kata juru bicara Samsung, tanpa menjelaskan rinciannya lebih lanjut.

Google sendiri menolak ketika diminta untuk mengomentari masalah ini.

"Meskipun Android bebas untuk digunakan oleh produsen, namun itu sangat mahal untuk dikembangkan, diperbaiki, dijaga tetap aman, dan dipertahankan dari tuntutan paten," kata Google dalam sebuah catatan yang menanggapi penyelidikan pengadilan terhadap mereka. "Kami menyediakan Android secara gratis, dan mengimbangi biaya kami melalui pendapatan yang kami hasilkan di aplikasi dan layanan Google yang kami distribusikan melalui Android."

Berbeda dengan Apple yang menjalankan sistem operasinya sendiri, Google mempertahankan hubungan yang unik dengan Samsung, yang menggunakan Android untuk sebagian besar smartphone dan tabletnya. Pembuat smartphone ini memiliki pangsa pasar terbesar di dunia.

Mesin pencarian mobile dikenal sebagai penggerak utama dari semua pendapatan yang diperoleh Google, namun data menunjukkan bahwa biaya lisensi yang diterima Samsung dari Google mungkin tidak sebesar yang diperoleh Apple. Dua tahun sebelumnya, Goldman Sachs memperkirakan bahwa sekitar 75 persen pendapatan mesin pencarian mobile Google dihasilkan dari perangkat Apple. Toni Sacconaghi mengutip dokumen pengadilan sejak tiga tahun yang lalu untuk mendukung penalarannya.

"Dokumen pengadilan menunjukkan bahwa Google membayar Apple $1 miliar pada tahun 2014, dan kami memperkirakan bahwa total pembayaran Google ke Apple pada tahun fiskal 2017 dapat mendekati $3 miliar," tulisnya dalam catatan tersebut. "Mengingat bahwa pembayaran dari Google hampir semuanya menjadi keuntungan bagi Apple, [dari] Google saja mungkin bisa mencapai 5 persen dari total laba usaha Apple tahun ini, dan mungkin mencapai 25 persen dari total pertumbuhan laba operasional perusahaan [Apple] selama dua tahun terakhir."

Dokumen pengadilan yang dia sebutkan merujuk pada sebuah transkrip proses pengadilan yang berkaitan dengan gugatan hak cipta yang diajukan oleh Oracle terhadap Google terkait penggunaan Java yang tidak sah, yang mengatakan bahwa Google telah membayar Apple $1 miliar pada tahun 2014 untuk mempertahankan mesin pencariannya tetap muncul di ponsel buatan Apple.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar