Kamis, 20 Juli 2017

Samsung tidak ingin terlena dalam kegagalan seperti Sony


Samsung Electronics terus meningkatkan upayanya untuk mencegah terulangnya mimpi buruk seperti yang dialami oleh Sony akibat kegagalan baterai produksi mereka pada pertengahan tahun 2000-an. Sony adalah produsen komponen premium terkemuka di dunia sampai tahun 2006, saat 4 juta laptop Dell terpaksa ditarik kembali dari pasaran karena "baterai meledak" yang dipasok oleh Sony.

Selain baterai dan komponen elektronik, Sony pada saat itu juga tak tertandingi di berbagai bidang teknologi seperti TV dan kamera. Tidak ada yang percaya kemudian Samsung bisa mengambil alih kejayaan Sony sejak 2005, karena perusahaan asal Korea tidak dikenal secara luas sebelumnya di berbagai pameran dagang internasional seperti Consumer Electronics Show di Las Vegas atau IFA di Jerman.

Sony mulai kehilangan pamornya setelah penarikan laptop yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan Samsung kemudian menggantikan posisinya menjadi produsen elektronik premium nomor satu di dunia selama lebih dari satu dekade hingga saat ini.

Samsung sempat mengalami kemunduran yang tak terduga tahun lalu, setelah salah satu produk andalannya Galaxy Note 7 terlibat dalam kontroversi serupa dengan Sony 10 tahun lalu terkait baterai yang meledak. Namun, perusahaan Korea itu terbukti lebih lincah dalam menghadapi kegagalan tersebut dengan segera menghentikan produksi dan penjualan perangkat yang bermasalah dan menawarkan pengembalian uang untuk sekitar 1 juta pengguna galaxy Note 7.

Perbedaan penting dalam manajemen krisis di Samsung dan Sony adalah upaya mereka untuk segera mendapatkan kembali kepercayaan konsumen dengan segera mengumumkan akar penyebab bencana pada Note 7. Samsung segera minta maaf dan juga berjanji untuk mencegah insiden yang serupa terulang kembali di masa depan dengan meluncurkan langkah-langkah inspeksi keselamatan berlapis dari tahap pengembangan awal yang jauh lebih banyak dan detil daripada sebelumnya. "Samsung tidak akan mengklaim tanggung jawab hukum apapun terhadap pemasok baterai kami, karena kami pada akhirnya memang gagal untuk mengecek ulang keamanan perangkat," kata kepala Samsung Mobile Koh Dong-jin (DJ Koh) mengatakan dalam sebuah konferensi pers pada bulan Januari.

Penanggulangan yang cepat telah membantu memenangkan kembali kepercayaan konsumen, seperti yang ditunjukkan oleh penjualan smartphone terbarunya di awal 2017. Berdasarkan laporan terbaru dari lembaga riset pasar International Data Corporation (IDC), pangsa pasar smartphone Samsung kembali naik di Q1 2017 setelah sebelumnya terpuruk di Q4 2017 akibat insiden Galaxy Note 7.

IDC: Smartphone Vendor Market Share Chart


Berbeda dengan Sony, hanya butuh waktu kurang dari setahun bagi unit mobile Samsung untuk kembali ke profitabilitas setelah mengalami bencana pada kuartal ketiga tahun lalu. Awal bulan ini, Samsung melaporkan laba operasional kuartal kedua yang mencapai 14 triliun won (sekitar 167 triliun rupiah). Ini adalah yang terbesar sejak perusahaan ini didirikan pada tahun 1969.


Samsung ingin membuat baterai paling aman di dunia

Insiden baterai pada Samsung Galaxy Note 7 tidak hanya berimbas pada Samsung Mobile, tetapi yang paling parah terkena dampaknya adalah Samsung SDI, afiliasi dari Samsung Group yang memproduksi baterai dalam skala besar. Namun, di bawah kebijakan Samsung Group, Samsung SDI dengan cepat juga bisa kembali mendapatkan kepercayaan dari klien utamanya.

Setelah Samsung Electronics mengumumkan penarikan kembali Note 7 secara global pada bulan September tahun lalu, Samsung SDI membentuk sebuah gugus tugas darurat di fasilitas manufakturnya di Cheonan, sebelah selatan Seoul, dalam usaha tanpa kenal lelah untuk bisa menghentikan terjadinya kembali kegagalan baterai yang serupa. Saat itu, Samsung SDI mengalokasikan lebih dari 100 pekerja mereka ke gugus tugas baru tersebut, melakukan proses pemeriksaan keselamatan tiga arah mulai dari pengembangan dan pembuatan hingga inspeksi kualitas paska produksi.

"Kami telah menginvestasikan lebih dari 150 miliar won (sekitar 1,8 triliun rupiah) untuk meningkatkan langkah-langkah keselamatan sejak bencana Note 7," kata seorang pejabat di Samsung SDI. "Kami juga bekerja sama dengan organisasi inspeksi pihak ketiga untuk memastikan bahwa sistem keselamatan kami telah meningkat."

Upaya tersebut mulai membuahkan hasil, karena keuntungan perusahaan diperkirakan akan menormalkan setidaknya pada paruh kedua tahun ini.

"Penjualan baterai polimer kami baru saja pulih ke tingkat yang sama seperti waktu sebelum kegagalan Note 7," kata pejabat Samsung SDI tersebut. "Kami menghubungkan pemulihan cepat ini dengan respons instan kami untuk memperketat langkah-langkah keselamatan."

Samsung telah siap mengungkap versi terbaru dari Galaxy Note - yang dilengkapi dengan baterai buatan Samsung SDI - bulan depan. Penjualan yang kuat dari smartphone andalan Samsung Electronics diperkirakan akan meningkatkan potensi rebound Samsung SDI di paruh kedua tahun ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar