Jumat, 28 April 2017

Ekosistem Samsung Smart TV telah melampaui 100 juta perangkat


Sejak tahun 2010, Samsung Electronics telah mempelopori berbagai upaya untuk membuat televisi menjadi lebih pintar dengan menggabungkan fitur seperti toko aplikasi TV, mesin pencarian dan browser web, kemampuan multi-screen dan bahkan dukungan untuk berbelanja secara online.

Upaya Samsung ini bukan semata untuk memberikan nilai tambah buat TV yang sudah ada, namun lebih menjawab keinginan konsumen yang menginginkan perangkat mereka menjadi lebih pintar. Jika di masa lalu kualitas gambar, harga dan ukuran layar adalah faktor terpenting yang dipertimbangkan konsumen saat membeli televisi, maka menurut sebuah survei terbaru tentang penggunaan dan sikap konsumen Amerika yang dilakukan oleh Samsung Electronics pada tahun 2014 dan 2016, faktor-faktor tersebut secara signifikan terus menurun. Dan sebagai gantinya, pentingnya fungsi pintar telah meningkat dua kali lipat dari 15,1 persen menjadi 29,6 persen dalam dua tahun ini.


Pada survei terpisah yang dilakukan pada bulan Juni 2015, konsumen Amerika diberikan sebuah pertanyaan "Mengapa Anda ingin meng-upgrade televisi Anda?." Jawaban karena 'kualitas gambar' dan 'fungsi pintar' masing-masing menjadi pilihan utama sebanyak 46 persen, diikuti oleh 'ukuran layar'.

Namun sebenarnya apa yang membuat televisi menjadi pintar dan layak disebut Smart TV? Melalui sebuah proyek yang disebut EDEN, Samsung memutuskan untuk memikirkan kembali jawaban atas pertanyaan ini.


Dewasa ini, siaran TV dan Over-The-Top (OTT) yang tak terhitung jumlahnya menyiarkan konten yang berbeda. Jika dihitung, jumlah konten televisi dan mitra penyedia aplikasi untuk Samsung Smart TV saja sudah melebihi 100. Belum lagi rata-rata televisi sekarang terhubung dengan 2,8 perangkat seperti set-top-box, konsol game dan pemutar DVD/Blu-Ray, sementara rata-rata konsumen memiliki sekitar empat remote control yang tergeletak di sekitar ruang keluarga mereka. Lingkungan seperti ini menghalangi pengalaman pengguna, dan membuat konsumen bertanya-tanya apakah dengan kondisi seperti ini Smart TV sebenarnya layak disebut sangat pintar.

"Jika televisi dulu adalah perangkat yang mengubah sinyal siaran menjadi gambar di layar, TV saat ini adalah perangkat yang menghubungkan berbagai sumber multimedia," kata Han Sang-sook, Wakil Presiden Visual Display Business di Samsung Electronics. "Jadi, kita sampai pada kesimpulan bahwa sebuah televisi pintar sejati harus dapat menyediakan berbagai konten dengan cepat dan mudah dan memungkinkan pengguna untuk menikmati kualitas gambar tertinggi."

Samsung telah memperbaiki Smart TV dengan mengaktifkannya untuk secara otomatis mengenali perangkat yang terhubung dan memungkinkan untuk mengendalikan perangkat ini melalui satu remote control yang terintegrasi. Pencarian dan akses konten juga telah difasilitasi melalui menu televisi pintar yang bersih dan terorganisir dengan baik yang menampilkan konten dan aplikasi dalam satu baris di bagian bawah layar.


Sejak menggabungkan konsep 'Pengalaman Tunggal' ke TV, penggunaan aplikasi dan layanan Samsung Smart TV telah meningkat 3,3 kali lipat; dan frekuensi pengontrol set-top box dengan remote control yang terintegrasi telah meningkat 1,6 kali lipat.

Tapi ini baru permulaan, karena Samsung berencana mengembangkan teknologi untuk meningkatkan kemampuan televisi pintar ini menjadi lebih jauh lagi.

"Kami akan memperluas pengalaman pengguna dengan melampaui penggunaan smartphone sebagai remote control untuk memilih dan menampilkan konten di TV," kata Han Sang-sook. "Kami akan berusaha untuk meningkatkan ekosistem Samsung Smart TV - yang telah melampaui 100 juta perangkat - dengan mengintensifkan pengenalan suara dan artificial intelligence, memanfaatkan big data, dan banyak lagi."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar