Rabu, 15 Maret 2017

Samsung targetkan 10 juta smartphone Tizen di 2017


Samsung Electronics akan menambah model smartphone Tizen tahun ini, sekaligus juga memperluas wilayah peredarannya untuk mencapai target penjualan tiga kali lipat lebih banyak dari tahun sebelumnya. Di masa depan, Samsung ingin semua perangkat buatan mereka menggunakan sistem operasi yang sama agar bisa dengan mudah menerapkan teknologi-teknologi baru yang belum pernah ada sebelumnya.

"Kita merencanakan akan merilis model smartphone Tizen baru untuk paruh pertama dan paruh kedua 2017. Kita masih akan memperluas model dan negara pemasaran dengan meningkatkan footprint dari Tizen," kata Choi Ho-kyu, Director of Tizen Business, Product Strategy Team, Mobile Communications Division, Samsung Electronics.

Setiap model smartphone Tizen yang baru selalu dibuat berdasarkan masukan dan umpan balik dari pengguna, pengecer dan mitra Samsung yang terlibat langsung dalam model sebelumnya, termasuk smartphone Samsung yang berbasis Android dan model flagship seperti Galaxy S7. Hal ini dilakukan sejak peluncuran smartphone Tizen yang pertama - Samsung Z1 - agar perangkat Tizen lebih bernilai buat konsumen.

"Dalam dua tahun kita menerima banyak masukan dan umpan balik sejak Januari 2015. Sebagian besar masukan soal perangkat Tizen adalah desainnya yang stylish, kinerja yang baik dan daya tahan baterai yang lebih lama serta tidak lemot," kata Choi Ho-kyu. "Karena ini berbeda dengan Android. Android berbasis pada virtual machine, sementara Tizen tidak memiliki itu. Dengan kondisi yang sama, spesifikasi yang sama, Tizen lebih cepat, lebih bersih, dalam hal pengalaman pengguna. Sehingga, baterainya lebih tahan lama dibanding perangkat lainnya."

Choi Ho-kyu menyadari bahwa konsumen mobile saat ini juga sangat peduli ekosistem aplikasi di dalamnya, tidak lagi hanya pada desain dan harga perangkat. Untuk mempermudah pengembang dalam membuat aplikasi Tizen, Samsung telah menjalin kerjasama dengan penyedia alat pengembangan lintas-platform seperti Unity dan Cocos2d.

"Kita telah mengamankan banyak aplikasi kunci. Saya pikir untuk sebuah sistem operasi yang masih sangat baru, dalam waktu kurang dari dua tahun, bisa mendapatkan aplikasi-aplikasi yang penting adalah benar-benar sulit. Tapi kita telah bisa mendapatkan WhatsApp, Facebook, Instagram, Facebook Messenger, dan baru-baru ini Temple Run 2 telah tersedia di Tizen Store," kata Choi Ho-kyu.

Choi Ho-kyu mengatakan bahwa perusahaannya berhasil menjual sekitar 3 juta unit smartphone Tizen selama tahun 2016 kemarin. Untuk tahun ini, target penjualan ditingkatkan hingga lebih dari tiga kali lipat mengingat smartphone Tizen tidak lagi hanya dijual di India dan sekitarnya seperti pada produk Z1 dan Z3, tapi mulai Z2 sudah merambah ke Indonesia dan negara-negara di Afrika.

Walaupun smartphone Samsung saat ini masih didominasi oleh penggunaan OS Android, tapi Tizen memiliki masa depan yang lebih baik karena tidak hanya bisa digunakan di smartphone, tapi juga perangkat wearable, TV, oven, kulkas dan lainnya. Jadi Samsung ingin menempatkan Tizen pada semua produk mereka agar bisa saling terhubung satu sama lain. Menurut Choi Ho-kyu, ini adalah tujuan akhir dari perusahaannya yang harus dicapai, tidak peduli bahwa itu nantinya akan membutuhkan waktu yang lama.

"Berbicara soal tren penjualan dari smartphone Tizen, kita menargetkan 10 juta unit perangkat hingga akhir 2017. Awalnya kita meluncurkan smartphone Tizen di India, tapi lewat peluncuran Z2 telah diperluas ke Indonesia dan juga negara-negara di Afrika," kata Choi Ho-kyu. "Tujuan utama dari Samsung dengan Tizen adalah untuk memperbanyak perangkat, form-factor dari Tizen, dan memperluas cakupan yang berhubungan dengan jumlah perangkat, jumlah negara pemasaran, sehingga Tizen bisa terus menjadi besar, menjadi sebuah kelompok dengan sistem operasi yang sama."


Samsung siapkan smartphone high-end Tizen untuk menciptakan pasar baru

Banyak dari pengguna mobile yang ingin mencoba OS Tizen, tapi kemudian mengurungkan niatnya karena ingin menunggu perangkat berikutnya dengan spesifikasi dan fitur yang lebih baik. Walaupun sudah sering dijelaskan bahwa perangkat Tizen tidak membutuhkan spesifikasi tinggi seperti Android untuk bisa berjalan mulus, namun mereka juga memiliki ekspektasi di sisi lainnya seperti kamera, layar yang lebih jernih dan lebar, tahan air dan sebagainya.

"Secara umum, strategi dari Tizen yang kita inginkan adalah tetap pada entry level, namun kita akan terus menumbuhkannya. Tentu saja kita juga ingin meluncurkan perangkat high-end, tapi itu membutuhkan waktu. Tidak mudah untuk meluncurkan perangkat dari low-end ke high-end dalam waktu yang sama. Ekspansi pasarnya sangat berbeda. Jadi kita perlu memperluas pasar secara step-by-step, yang dimulai dengan perangkat low-end, lalu kita akan terus menumbuhkannya hingga sampai keatas," jelas Choi Ho-kyu.

Samsung tentunya tidak ingin gagal dalam memperkenalkan OS baru mereka seperti Blackberry dengan Blackberry 10, Mozilla dengan Firefox OS, maupun Microsoft dengan Windows Phone mereka. Oleh karena itu mereka telah menempatkan lebih banyak upaya mereka pada smartphone Tizen daripada produk Android mereka agar terasa lebih berharga saat berada di tangan konsumen, walaupun untuk segmen entry level sekalipun. Setelah sukses dengan produk low-end, Samsung akan mulai meningkatkannya sedikit demi sedikit.

"Karena masih di segmen low-end, kita akan melakukan yang terbaik untuk membuat perangkat yang memenuhi 'value for money'," tambah Choi Ho-kyu. "Seperti yang kita tahu, Samsung Electronics sangat bagus dalam hal desain, manufacturing. Jadi kita akan menempatkan upaya yang lebih besar untuk membuatnya 'elegan', terutama untuk model Tizen. Jika Anda membandingkan perangkat Tizen dan perangkat Android buatan Samsung, desain dari perangkat Tizen selalu lebih baik daripada model yang menjalankan Android. Itu artinya kita mencurahkan lebih banyak upaya pada Tizen."

"Di tahun 2017, kita berencana meluncurkan dua smartphone Tizen untuk segmen yang sedikit lebih tinggi. Kita akan merilis perangkat tersebut di lebih banyak negara, dan kita juga terbuka untuk bekerjasama dengan berbagai macam mitra kerjasama untuk membuat perangkat ini lebih berharga di mata konsumen."

Terkait dengan produk smartphone high-end Tizen, Choi Ho-kyu sedikit memberi bocoran disini. Seperti yang kita tahu, dalam beberapa tahun terakhir Samsung rajin mengamankan teknologi yang terkait dengan perangkat mobile generasi berikutnya, baik itu melalui layar fleksibel maupun hologram, komponen semikonduktor seperti prosesor dan memori, hingga pengalaman pengguna (UX) baru bernuansa tiga dimensi. Dengan faktor bentuk yang baru, Samsung berharap bisa menciptakan pasar baru seperti Apple ketika memperkenalkan iPhone generasi pertama.

"Kita juga terus memikirkan untuk memperkenalkan perangkat yang berbeda, perangkat baru dengan faktor bentuk yang benar-benar berbeda dengan smartphone yang sudah ada, dengan OS Tizen. Sehingga kita bisa menciptakan pasar baru di masa depan."


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar