Kamis, 12 November 2015

Samsung: Tizen tidak mendukung chip Qualcomm


Keberhasilan pengembangan chip Exynos baru dipercaya akan bisa memutuskan ketergantungan Samsung Electronics pada chip buatan Qualcomm untuk perangkat mobile kelas menengah dan high-end. Sejauh ini, Qualcomm adalah satu-satunya produsen semikonduktor yang menjual prosesor dengan integrasi modem wireless dengan teknologi yang mendukung jaringan Long-Term Evolution (LTE) dalam satu chip tunggal.

"Saat ini hanya Qualcomm dan Apple yang memiliki Core CPU mobile berbasis ARM mereka sendiri. Mengingat fakta bahwa Texas Instruments, ST Ericsson, dan Broadcom semuanya sudah menyerah pada bisnis AP [Prosesor Aplikasi Mobile] karena teknologi modem yang lemah sementara Qualcomm adalah satu-satunya yang memiliki modem yang terintegrasi dengan AP premium, dapat dilihat bahwa keunggulan kompetitif Samsung Electronics dalam desain sistem semikonduktor telah mencapai tingkat kelas dunia," kata Profesor Park Woo-chan dari Universitas Sejong Fakultas Teknik Komputer.

Selama beberapa tahun terakhir, Samsung Electronics telah bekerja keras secara internal untuk menggabungkan chip modem dan teknologi frekuensi radio dalam satu chip. Sejak tahun lalu, Samsung lewat divisi System LSI Business telah menjalankan laboratorium independen untuk proyek ini yang dipimpin oleh Kang In-yeob, eksekutif senior Samsung yang sebelumnya bekerja pada Qualcomm.

Kesuksesan dari Exynos terbaru ini akan menempatkan Samsung di posisi yang lebih baik untuk diskusi dengan Qualcomm soal royalti pembayaran. "Samsung ingin membayar lebih sedikit dengan imbalan menggunakan chipset Qualcomm," kata sebuah sumber yang akrab dengan situasi ini.


Dominasi paten komunikasi mobile milik Qualcomm

Pendapatan terbesar Qualcomm sebenarnya bukan dari penjualan chip, melainkan lewat lisensi paten dari teknologi komunikasi mobile yang mereka kembangkan, seperti CDMA / WCDMA (teknologi 3G) dan OFDMA (teknologi LTE/WiMax). Vendor smartphone yang teknologi Qualcomm dan beroperasi pada jaringan berbasis pada teknologi buatan Qualcomm harus membayar biaya royalti pada setiap handset yang dijual berdasarkan teknologi komunikasi milik Qualcomm. Apple, Samsung, Nokia dan LG adalah beberapa dari pelanggan utama Qualcomm.

Qualcomm adalah pemegang paten terkemuka untuk teknologi mobile 3G, yang telah memungkinkan mereka untuk mengenakan tarif royalti yang tinggi di masa lalu. Dengan lebih dari 250 pemegang lisensi, portofolio paten milik Qualcomm adalah portofolio yang paling banyak dilisensi di dunia.

Namun situasi berubah untuk 4G, dimana perusahaan-perusahaan seperti LG Electronics, Samsung, Motorola, Huawei, ZTE dan lainnya masing-masing memiliki paten teknologi komunikasi 4G mereka sendiri-sendiri. Walaupun masih menjadi salah satu pemegang paten terbesar, namun Qualcomm tidak lagi dominan seperti di era 3G.

Dominasi paten inilah yang membuat chip buatan Qualcomm lebih banyak digunakan oleh produsen smartphone karena biaya totalnya lebih murah daripada membeli chip dari perusahaan lain dan masih harus membayar lisensi ke Qualcomm. Situasi yang sama terjadi pada Android, dimana banyak teknologi yang digunakan di Android untuk hak patennya dimiliki oleh Microsoft.


Tizen tidak seharusnya mendukung chip buatan Qualcomm

Samsung Electronics mengembangkan perangkat Tizen selain untuk mengurangi ketergantungan software kepada Google, juga untuk mengurangi biaya lisensi kepada Qualcomm. Hampir semua perangkat referensi Android dari Google - seperti misalnya seri Nexus - menggunakan chip dari Qualcomm, sementara Microsoft malah mensyaratkan prosesor dari Qualcomm untuk perangkat Windows Phone.

"Di Tizen, kami mendukung modem IMC pada saat ini, yang didasarkan pada AT standard," kata Jun Tae-soo, Principal Software Engineer di Samsung Electronics yang saat ini bekerja sebagai arsitek software untuk proyek Tizen bidang komunikasi, melalui Tizen Mailing List. "Sedangkan untuk dukungan buat chip Qualcomm, Tizen tidak seharusnya mendukungnya karena ada beberapa masalah lisensi."

IMC atau Intel Mobile Communications adalah divisi pengembangan mobile milik Intel yang dibentuk setelah Intel mengakuisisi divisi nirkabel milik Infineon, perusahaan semikonduktor asal Jerman.

Mulai tahun depan, semua perangkat Tizen akan mendukung konektivitas IoTivity untuk terhubung dengan perangkat IoT lainnya. Dilain pihak IoTivity merupakan rival dari AllJoyn, protokol IoT buatan Qualcomm. Dua protokol ini masing-masing memiliki anggota yang besar dan paten mereka sendiri-sendiri dan tidak akan mungkin untuk terkoneksi antar satu sama lain.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar