Rabu, 18 November 2015

OS War 4: Microsoft dan Samsung pilih aplikasi iOS daripada Android


Saat berlangsungnya konferensi pengembang Build 2015 pada bulan April kemarin, Microsoft meluncurkan 4 proyek untuk memporting berbagai jenis aplikasi yang berbeda menjadi aplikasi Windows 10, diantaranya yang terkenal adalah Project Islandwood untuk memporting aplikasi iOS dan Project Astoria untuk memporting aplikasi Android.

Berselang tujuh bulan kemudian, Project Astoria dikabarkan telah dibatalkan oleh Microsoft. Menurut laporan dari Windows Central, Project Astoria ternyata adalah emulator Android yang memungkinkan aplikasi Android bisa berjalan di perangkat Windows 10 tanpa perlu modifikasi apapun.


Mengapa memilih Android emulator dan bukan iOS emulator?

Jika kita sedikit kilas balik ke belakang, banyak sistem operasi mobile baru yang menargetkan aplikasi Android untuk mengatasi kesenjangan aplikasi yang mereka miliki. Sebagian dari OS baru ini dibangun dari awal, dan sebagian lagi merupakan hasil forking dari Android.

Versi resmi dari Android yang dikembangkan oleh Google mensyaratkan pengadopsinya untuk ikut sebagai anggota Open Handset Alliance (OHA) dan mengikutsertakan berbagai layanan Google sebagai default. Buat perusahaan yang berbasis di China atau perusahaan pesaing Google yang tidak memiliki kesempatan atau enggan masuk OHA, mereka terpaksa harus mengadopsi versi open source dari Android yang dikenal sebagai Android Open Source Project (AOSP) dan membuat toko aplikasi sendiri.

Sebagian besar aplikasi Android yang digunakan di perangkat non-Android ini berasal dari toko aplikasi AOSP, misalnya Amazon App Store dan Yandex Store. Aplikasi AOSP terbanyak sebenarnya ada di China, namun secara khusus dibuat untuk konsumen disana oleh pengembang lokal.

Sementara iOS tidak memiliki versi open source dan dikembangkan secara internal oleh Apple. Bukan tidak mungkin dibuat iOS emulator, tapi penerapannya akan jauh lebih sulit.


Tidak ada perangkat non-Android yang sukses dengan mengandalkan aplikasi Android

BlackBerry adalah OS mobile pertama yang menempatkan emulator aplikasi Android di BlackBerry 10 yang memungkinkan pengguna perangkat dengan OS ini bisa menjalankan aplikasi Android. Namun strategi ini tidak berjalan dengan baik dan BlackBerry akhirnya malah menyerah dengan OS mereka sendiri dan memilih mengadopsi Android lewat BlackBerry Priv.

Selain BlackBerry, beberapa start-up yang juga mengembangkan layanan emulator Android sejauh ini belum ada yang sukses. Sebut saja misalnya OpenMobile dan Infraware yang sejauh ini gagal menghadirkan ratusan ribu aplikasi Android ke Tizen dan webOS seperti janji mereka. Alasannya lebih kearah non-teknis daripada soal teknis.

Layanan emulator Android ini rawan terhadap praktek pembajakan karena semua orang bisa memanfaatkannya untuk menjalankan aplikasi Android di perangkat mereka, tanpa diketahui atau diluar kontrol pengembangnya. Hal ini terkadang juga bisa membuat aplikasi tidak berjalan dengan sempurna di perangkat yang baru yang akhirnya membuat image kurang baik buat pengembangnya.


Pengembang aplikasi populer lebih utamakan iOS

Sebelum Microsoft memutuskan untuk membatalkan Project Astoria, Samsung sudah lebih dulu menolak untuk membuat aplikasi Android bisa berjalan di perangkat Tizen. Samsung sering mengatakan bahwa perangkat Tizen tidak mendukung aplikasi Android, namun mereka tidak akan menghalangi pihak ketiga untuk membuatkan layanan yang bisa menjalankan aplikasi Android di perangkat Tizen.

Saat smartphone Tizen pertama Samsung Z1 dirilis di India, aplikasi messaging WhatsApp yang sangat populer di India menjadi incaran pertama pengguna smartphone ini. Ini adalah aplikasi Android pertama yang bisa dijalankan di perangkat komersial Tizen lewat Tizen Store. Untuk bisa menjalankannya, pengguna harus mendownload dan menjalankan aplikasi ACL dari OpenMobile untuk mengaktifkan emulator Android.

Kepopuleran aplikasi ini tidak bertahan lama, karena kemudian aplikasi native WhatsApp hadir di Tizen Store yang secara keseluruhan lebih baik dalam hal kinerja dan integrasinya dengan semua fitur di smartphone. Menurut beberapa sumber di Samsung, aplikasi native WhatsApp ini merupakan hasil porting dari aplikasi yang sama untuk iOS. Demikian juga beberapa aplikasi populer lainnya yang hadir di Tizen Store.

Aplikasi hasil porting dari iOS dianggap memiliki kinerja yang lebih baik daripada hasil porting dari Android sebagai alasan utama dibalik pemilihan ini.

Menurut RFM Research, keengganan Microsoft maupun Samsung untuk memporting aplikasi Android terkait dengan semakin menurunnya relevansi Android dalam ekosistem aplikasi global secara keseluruhan. Sebagian besar pengembang aplikasi semakin banyak yang mengarahkan ke iOS sebagai sumber utama untuk memonetisasi aplikasi mereka. Sehingga semakin banyak aplikasi populer yang muncul pertama kali di iOS, sebelum kemudian diporting ke OS lain yang dirasa menguntungkan.

Saat berlangsungnya WWDC 2015 pada bulan Juni kemarin di San Fransisco, Apple meluncurkan bahasa pemrograman Swift 2.0 dan membuatnya menjadi open source pada akhir tahun ini. Langkah ini akan membuat Swift menjadi bahasa pemrograman yang semakin banyak digunakan oleh pengembang dan membuat aplikasi iOS menjadi target utama mereka.

"Apple pasti telah berpikir tentang apa yang mungkin akan dilakukan oleh Microsoft dan Google (dan lainnya) sekarang. Microsoft akan diuntungkan, dan aku bisa melihat Tizen bisa mengambil manfaat dengan cara yang sama. Google memiliki basis pengembang besar yang senang dengan Java, dan jika pernah ingin mengganti Java, ada beberapa bahasa alternatif yang sudah berkembang selama beberapa waktu," kata Florian Mueller, pakar paten yang terkait dengan software dan teknologi mobile.

Dengan menargetkan pengembang aplikasi iOS secara langsung, kini Microsoft dan Samsung setidaknya bisa mensejajarkan OS mereka dengan Android dihadapan pengembang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar