Sabtu, 31 Oktober 2015

Fight in 2017


Tahun 2017 akan diawali dengan hari Minggu, waktunya bersantai bagi sebagian besar orang yang bekerja atau sedang menempuh pendidikan formal. Namun bagi perusahaan-perusahaan teknologi dunia seperti Samsung, Google, LG, Huawei dan lainnya, 2017 merupakan awal dimulainya rekonsiliasi dan transisi dari bisnis mobile mereka menuju masa depan yang lebih baik.


Android (mungkin) tidak lagi free dan open source

Pada bulan Mei 2012, Google akhirnya mengumumkan bahwa proses akuisisi mereka terhadap Motorola Mobility akhirnya selesai. Halangan terakhir dan terberat untuk mendapat persetujuan pemerintah China bisa juga diselesaikan.

Pemerintah China mengatakan bahwa mereka menyetujui akusisi ini karena Google juga menyetujui persyaratan mereka untuk tetap membuat Android tersedia secara free dan open source selama 5 tahun ke depan atau hingga tahun 2017. Walaupun langkah ini sebenarnya ditujukan untuk melindungi vendor-vendor smartphone asal China, namun vendor smartphone asal negara Asia lainnya diketahui juga mempersiapkan diri untuk resiko yang paling berat.

"Saya berada di Korea beberapa minggu yang lalu dan berbicara dengan Samsung dan LG. Mereka sedikit cemas terhadap Android karena mereka bukan Google. Mereka juga ingin membuat sistem operasi mereka sendiri karena mereka ingin menjadi pemegang kendali," kata Linus Torvalds, kreator kernel Linux saat berbicara di Universitas Finlandia pada bulan Oktober 2012.

Sejak pertama kali Google mengumumkan telah mengakuisisi Motorola pada bulan Agustus 2011, beberapa vendor Android kemudian diketahui melakukan beberapa langkah dramatis sebagai persiapan. Samsung yang merupakan vendor Android terbesar, bersama-sama dengan Linux Foundation dan Intel, kemudian meluncurkan sistem operasi mobile Tizen pada bulan Oktober 2011. Beberapa eksekutif Samsung awalnya menyatakan bahwa Tizen sebagai alternatif Android jika tidak lagi free setelah tahun 2017.

LG mengumumkan pembelian sistem operasi webOS dari Hewlett-Packard pada bulan Februari 2013 dan Huawei akhirnya meluncurkan LiteOS pada bulan Mei 2015 setelah sekian lama menyatakan bahwa mereka sedang bekerja pada sistem operasi mobile buatan sendiri. Dan beberapa raksasa IT asal China seperti Alibaba, Baidu dan Tencent juga telah memiliki OS mereka sendiri, termasuk juga Xiaomi.


50% Perangkat Samsung akan menggunakan OS Tizen

Saat di CES 2015 awal Januari kemarin, Samsung Electronic mengatakan harapannya bahwa semua perangkat electronics mereka akan menjalankan OS Tizen pada tahun 2020 atau lima tahun dari sekarang. Patokan lain adalah di tahun 2017 dimana semua TV Samsung akan menggunakan OS Tizen atau setidaknya 50% dari semua perangkat elektronik akan menggunakan Tizen (Samsung Electronics merilis 600 juta lebih perangkat pintar tiap tahunnya dengan sekitar 200 diantaranya adalah smartphone).

"Itu sebabnya platform Tizen akan diperkuat lagi. Kita tidak bisa secara langsung meninggalkan Google Android. Namun di tengah gelombang keterbukaan dan konektivitas saat ini, Anda tidak akan bisa hidup tanpa [software] milik Anda sendiri. Karena keuntungan terbesar Samsung terletak pada manufaktur, jika kita bisa menumbuhkan ekosistem baru, maka kita akan tumbuh lebih besar lagi," kata seorang eksekutif Samsung.


Google akan gabungkan Android dan Chrome OS

Hampir dua tahun berusaha mengintengrasikan dua OS miliknya, Google dikabarkan akan menggabungkan Android dan Chrome OS menjadi sistem operasi tunggal pada tahun 2017. Laporan dari The Wall Street Journal ini datang setelah untuk pertama kalinya Google meluncurkan tablet-laptop Pixel C yang berbasis Android pada September kemarin, bukan lagi Chromebook. CEO Google Sundar Pichai juga telah mengangkat pimpinan tim Android Hiroshi Lockheimer menjadi pimpinan untuk Android, Chrome OS and Chromecast. Merek Chrome dikabarkan hanya akan digunakan untuk browser web.

Google telah mengumumkan "End of Life Policy" untuk beberapa model Chromebook yang masih dijual di pasaran dan tidak akan lagi mendapat update software.

Persamaan dari Android dan Chrome OS adalah keduanya berjalan pada kernel Linux, sedangkan perbedaannya aplikasi Android menggunakan Virtual Machine dengan arsitektur hasil forking dari Java, dan Chrome OS menggunakan aplikasi berbasis web atau HTML5 dengan web engine Blink yang juga merupakan hasil forking dari WebKit.

Dengan penggabungan dua OS miliknya, Google berharap layanan pencetak uang mereka seperti Google Play, Search dan YouTube akan tersedia di lebih banyak perangkat.

Strategi ini secara tidak langsung akan membuat Google berhadapan langsung dengan Microsoft yang baru saja meluncurkan Windows 10 untuk PC, smartphone dan tablet. Sejauh ini Windows 10 telah mendapat reaksi awal yang positif dari konsumen yang sudah melakukan upgrade OS dan berbagai media. Sebagai perbandingan, Android sementara unggul dalam ekosistem aplikasi mobile mereka, namun bagaimanapun Windows masih OS kelas desktop yang "lebih perkasa" dalam banyak hal. Pemenangnya tentunya ada di tangan konsumen, mana yang lebih cocok buat mereka.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar