Sabtu, 20 Juni 2015

Mengapa Samsung tidak akan memporting Tizen ke smartphone Galaxy?


Beberapa perusahaan pengembang sistem operasi (OS) mobile baru seperti Canonical dengan Ubuntu Touch, Mozilla dengan Firefox OS dan Jolla dengan Sailfish telah memporting OS buatan mereka agar bisa diinstal pada smartphone Android dengan tujuan selain untuk memperkenalkan OS baru mereka, juga untuk memperluas adopsi di kalangan pengembang. Namun hal ini nampaknya sulit terjadi untuk OS Tizen, walaupun Samsung selaku pengembang utama untuk Tizen mobile adalah produsen smartphone Android terbesar di dunia. Apa alasannya?

Carsten Haitzler, Master Engineer (Executive) di Samsung Electronics Software Center, memiliki jawaban yang menarik yang bisa menjelaskan semuanya secara rinci melalui Tizen mailing list.

"Ada perbedaan besar. Canonical melakukan porting. Bukan LG (yang membuat Nexus 4). Dalam rangka untuk mendistribusikan [smartphone] Android, perusahaan seperti LG, Samsung, dll telah menandatangani kontrak dengan Google (ini sifatnya rahasia), dan membayar biaya lisensi kepada Google untuk tiap unit [perangkat Android] yang dijual. Ini terkenal sebagai "anti-fragmentation agreement [perjanjian anti-fragmentasi]" dimana perusahaan-perusahaan tersebut menandatanganinya (ini didasarkan dari catatan publik dari beberapa kasus di pengadilan). Canonical tidak melakukan semua ini dan juga mereka tidak terlalu peduli. Hal ini tidak ada hubungannya antara mereka dengan Google," kata Carsten Haitzler. "Ini bukan produk [smartphone] mereka, juga tidak memberikan jaminan garansi. Mereka adalah pihak ke-3 yang independen yang tidak dapat dikontrol oleh Google maupun LG ketika berhubungan dengan "hacking Nexus 4 untuk bisa menjalankan Ubuntu" lain daripada apakah mereka benar-benar telah melanggar hak cipta atau paten."

"Ini benar-benar berubah jika produsen yang telah menandatangani perjanjian dengan Google melakukan hacking kepada perangkat mereka sendiri, kemudian mendistribusikan software [selain Android] tersebut. Pertama mereka akan terkena risiko tentang kemungkinan melanggar sesuatu dalam perjanjian kontrak dengan Google (tidak mengambil langkah ini berarti bahwa pembatasan tersebut benar-benar ada, atau apa yang Google mungkin lakukan. Aku belum pernah melihat kontrak ini sendiri, aku juga tidak tahu konten yang sebenarnya milik mereka selain Google memiliki hak untuk menolak semua lisensi di masa depan terkait Android, dan kesepakatan perjanjian agar perusahaan tidak melakukan fragmentasi pada ekosistem Android,... di luar dokumen publik seperti yang disebutkan lebih lanjut di atas)," jelas Carsten Haitzler.

"Kedua ketika seseorang melakukan flash pada perangkat mereka sendiri kemudian terjadi "mati total", maka akan menjadi tanggung jawab produsen untuk menanggungnya demi menghormati garansi karena pengguna tentunya akan lari ke mereka untuk meminta bantuan walaupun mereka merusaknya atas keinginan sendiri. Percayalah ini adalah ketakutan utama. Ada cukup banyak konsumen yang menjatuhkan ponsel mereka ke dalam air KEMUDIAN mengharapkan perbaikan garansi. Inilah sebabnya mengapa perusahaan menempatkan zat khusus dalam perangkat yang akan mengubah warna saat terjadi kontak dengan air - untuk mendeteksi hal ini karena banyaknya frekuensi klaim tersebut. Mengatakan "seseorang tidak akan melakukan ini karena mereka tahu lebih baik" tidak akan meyakinkan kasus di atas. Anda akan membutuhkan sistem yang sangat mudah untuk bisa mendeteksi kegagalan reflash eksplisit sepele akibat dari pengguna yang melakukan flash dengan OS yang tidak didukung seperti Tizen, maka hal itu mungkin bisa dilakukan. Dan tidak ada hambatan lainnya. Hal ini tidak terjadi pada Canonical dan Ubuntu pada Nexus 4."

"Ketiga adalah masalah dilusi untuk merek produk. Smartphone Nexus 4 dijual sebagai perangkat Android. Banyak sekali iklan/pemasaran yang mengarah ke situ. Bukan [diiklankan] sebagai board hacker yang universal untuk bisa menjalankan [OS] apapun yang Anda suka. Setelah Anda resmi mulai mendukung flashing OS yang berbeda pada perangkat tersebut, Anda akan meluruhkan merek produk dengan membuatnya lebih dari sekedar "bisa menjalankan [OS] apa pun yang Anda suka". Ini bukan masalah buat Canonical yang melakukan hacking pada Nexus 4 karena mereka adalah pihak ke-3 yang tidak bisa Anda kontrol," kata Carsten Haitzler. "Ini adalah pesan yang sangat berbeda."

"Apa yang saya katakan di sini adalah, bahwa masalah ini tidak sesederhana ini dan berlaku hitam putih seperti yang Anda pikirkan. Hal ini sebenarnya jauh lebih sulit bagi perusahaan untuk memodifikasi perangkat mereka sendiri seperti ini daripada bagi pihak ke-3 karena banyak faktor, beberapa di antaranya telah disebutkan di atas," pungkas Carsten Haitzler. "Saya yakin ada lebih [banyak lagi]."


1 komentar:

  1. beritanya cukup mengejutkan yang soal "membayar lisensi kepada Google" , saya pikir android itu bukannya Free dan Open source ya, kalo gitu perusahaan macem Samsung bayar banyak pihak donk, uda bayar Google, Microsoft, trus di troll patent Apple, dan beberapa lisensi perusahaan lainnya

    BalasHapus