Selasa, 27 Januari 2015

Pasar China mulai lesu, vendor smartphone kini incar pasar India dan Indonesia

Samsung Z1 diantara Samsung Galaxy, andalan baru untuk pasar negara berkembang

Pertumbuhan smartphone tanpa henti di China secara dramatis mulai melambat pada tahun 2014 kemarin, dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun ini. Hal ini memaksa vendor smartphone yang sebelumnya mengandalkan pasar China untuk keluar mencari pasar lain yang potensial untuk bisa menjaga tren pertumbuhan. Bahkan beberapa produsen smartphone asal China yang tidak bisa melakukan hal ini terancam akan bangkrut tahun ini juga.

Menurut firma riset pasar ABI Research, pertumbuhan pasar smartphone di Asia-Pasifik telah menurun dari 43% pada tahun 2013 menjadi 17% pada tahun 2014 dan kemudian hanya 10 % pada tahun 2015, sebagian besar didorong oleh China. Hal ini diketahui setelah beberapa operator telekomunikasi di China mulai memangkas belanja smartphone mereka mulai tahun ini.

"Sebagai pendorong utama prediksi pertumbuhan di China akan melambat adalah pengumuman China Mobile pada pertengahan 2014 yang akan memangkas subsidi handset senilai US$2 miliar selama 3 tahun ke depan," kata Nick Spencer, Direktur Senior di ABI Research. "China Unicom dan China Telecom akan segera mengikuti dengan rencana pemotongan biaya mereka sendiri. Hal ini sebagai tanggapan terhadap direktif dari Komisi Pengawasan Aset dan Administrasi milik negara untuk operator agar memotong biaya subsidi dan pemasaran."

Tahun depan diperkirakan akan menjadi tahun yang menentukan bagi para produsen smartphone di China, di mana sekitar selusin produsen dalam negeri akan berlomba-lomba untuk mengais sepotong pasar smartphone terbesar di dunia yang mulai tertular penyakit kejenuhan. Menurut Dog Young, seorang pengamat teknologi dan telekomunikasi China, pemain besar seperti Huawei, Lenovo, ZTE dan Xiaomi, yang semuanya didanai dengan baik dan memiliki sumber daya yang cukup untuk bertahan hidup diperkirakan akan bisa melalui tren perlambatan ini. Tetapi untuk pemain yang lebih kecil, nama-nama baru seperti Oppo, OnePlus dan Smartisan mungkin menjadi yang tidak begitu beruntung, dan diperkirakan akan tutup buku sebelum tahun 2015 berakhir.

Berdasarkan informasi dari Departemen Perindustrian dan Teknologi Informasi China (Ministry of Industry and Information Technology/MIIT), pengiriman semua jenis ponsel benar-benar anjlok 22 persen di China tahun lalu menjadi cuma 452 juta unit, yang sebagian besar dipengaruhi oleh penurunan tajam 64 persen untuk model 2G dan penurunan 46 persen untuk model 3G. Khusus untuk smartphone turun 8,2 persen menjadi cuma 389 juta unit tahun lalu.

Pengguna ponsel di China sendiri kini berjumlah 1,28 miliar, 86 persen adalah pengguna smartphone, dan dengan tingkat penetrasi yang sudah mencapai 95 persen. Angka ini tentunya berbeda jauh dengan penetrasi smartphone di Indonesia yang baru mencapai 25 persen dan India 13 persen.

Perlu dicatat juga bahwa angka 389 juta unit adalah pengiriman unit smartphone dan bukannya penjualan aktual. Jadi kemungkinan sebanyak 20-30 persen dari semua unit smartphone yang telah dikirim masih menumpuk di gudang distributor dan di rak-rak toko sebagai persediaan yang tidak terjual karena kejenuhan pasar. Itu berarti perang harga saat ini kita telah melihat selama setahun terakhir bisa mempercepat sebagai penjual mencoba untuk membersihkan persediaan, yang bisa memperburuk perlambatan yang bisa melihat kontrak pasar dengan anter 10 persen atau lebih tahun ini.

Untuk mengantisipasi kontraksi ini, pemain-pemain seperti Huawei, Lenovo, Xiaomi telah meningkatkan upaya-upaya internasional mereka untuk mengincar pasar negara berkembang yang berpenduduk padat yang tingkat penetrasi smartphone-nya masih rendah seperti India dan Indonesia, dan bersaing langsung dengan nama-nama besar seperti Apple, Samsung, LG, Sony maupun HTC untuk menjaga penjualan smartphone mereka sendiri tetap tumbuh. "OEM China akan mulai melihat pasar di luar China untuk mempertahankan rencana pertumbuhan mereka. Kami telah melihat pemain-pemain seperti Xiaomi dan Lenovo membuat gerakan ambisius di luar China; mengharapkan pemain lain [dari China] untuk segera mengikuti," kata Nick Spencer.

Di negara-negara berkembang ini masalah harga menjadi isu utama yang sensitif dan juga biasanya memiliki siklus hidup handset yang lebih lama, yang lebih dekat ke 4 tahun daripada 2 tahun seperti di pasar negara maju. "Seperti yang diharapkan, hal ini menyebabkan pergeseran ASP [harga jual rata-rata] smartphone. Smartphone dengan harga dibawah $200 akan mengalami tingkat pertumbuhan 14% selama 2014-2019, sedangkan smartphone dengan harga $400 keatas akan mengalami pertumbuhan hanya 5%, tapi masih tetap tumbuh," lanjut Nick Spencer.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar