Minggu, 22 Juni 2014

Samsung manfaatkan keunggulan TV, peralatan rumah tangga dan smartphone untuk persaingan Smart Home


Smart Home atau Home Automation diperkirakan akan menjadi medan perang besar berikutnya antara Samsung, Apple dan Google. Samsung Electronics sendiri telah memandang Smart Home sebagai "mesin pertumbuhan" baru untuk perusahaannya.

"Ini adalah pasar yang baru dan akan memberikan kesempatan besar bagi perusahaan," kata Yoon Boo-keun (BK Yoon), Co-CEO Samsung Electronics dan Presiden untuk divisi Consumer Electronics (CE). "Proses di mana setiap perusahaan mencoba untuk mencari tahu teknologi otomatisasi rumah akan berbeda. Tujuannya masih sama. Ada banyak antisipasi, ketertarika, investasi dan M&A [Merger & Akuisisi] di bidang ini."

Apple baru-baru ini mengumumkan HomeKit sebagai kerangka untuk menghubungkan perangkat yang berbeda di rumah, sementara Google telah mengakuisisi produsen Home Automation Nest awal tahun ini. Namun bedanya kedua perusahaan ini hanya menjadi penyedia solusi, sementara Samsung Electronics mengandalkan kehadiran utama mereka di pasar TV, peralatan rumah tangga dan smartphone. "Kami sudah menjadi pemimpin dalam bisnis TV dan nomor satu di bidang smartphone. Itu sangat membantu kami saat kami sedang berbaris di usaha ini ke Smart Home atau connected home."

Menurut BK Yoon, perangkat pintar masa depan akan mengantisipasi pikiran kita. "Ketika misalnya saya kembali ke rumah setelah pergi untuk sementara, teknologi akan memahami waktu dan keberadaan saya di dalam rumah dan itu akan mengingat beberapa pola perilaku saya untuk mengubah pencahayaan (kecerahan dan warna) secara otomatis, dan mengoptimalkan pengaturan kamar dengan kondisi yang saya inginkan."

Saat berlangsungnya Tizen Developer Conference 2014 (TDCSF14) awal bulan ini di San Fransisco, Samsung Electronics mendemontrasikan cara kerja Tizen Smart Home yang sama seperti yang diucapkan oleh BK Yoon diatas.



Yoon percaya bahwa kita masih di babak pertama dalam membawa visi tersebut agar bisa membuahkan hasil, sesuatu yang katanya mungkin memakan waktu tiga sampai lima tahun. "Ini akan memakan waktu bagi teknologi untuk mengenali pola hidup konsumen. Teknologi sensor yang kita miliki sekarang masih belum cukup mampu untuk melakukan itu." Banyak data yang harus dikumpulkan, ia menambahkan, dan teknologi harus lebih akurat.

Apakah ini sesuatu yang diinginkan para konsumen? "Kami melakukan banyak penelitian, khususnya dalam gaya hidup konsumen di setiap negara (dimana kami beroperasi). Kami mencoba untuk menentukan di mana titik-titik kesulitan konsumen berada dan memberikan solusi untuk titik-titik kesulitan itu. Dalam hal masa depan Smart Home...satu per satu kita mencoba untuk datang dengan solusi."



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar