Minggu, 20 April 2014

Android sebenarnya adalah rencana B dalam strategi Samsung?


Membahas sistem operasi (OS) yang digunakan oleh Samsung Electronics untuk perangkat mobile mereka adalah sesuatu yang menarik untuk diikuti. Selama ini, Samsung dikenal memiliki strategi multi-OS dan mereka selalu mengatakan bahwa hal ini disesuaikan dengan permintaan konsumen. Namun tentu saja segalanya tidak sesederhana itu.

Menurut "somebody," seseorang yang mungkin bekerja di lingkungan internal Samsung sehingga mengetahui banyak hal, Android sebenarnya adalah rencana B yang terbukti kemudian lebih sukses dari rencana A sementara masih tetap mempertahankan penanda B. Menurutnya Samsung sudah pasti akan lebih menyukai OS dimana mereka memiliki suara dalam bagaimana [OS] itu berkembang. Somebody juga menekankan bahwa pada saat itu, masih belum ada cara buat Linux untuk bisa masuk ke dunia mobile.

Samsung memang telah beberapa kali mencoba meluncurkan smartphone berbasis Linux hasil kreasi mereka sendiri sebagai bagian dari proyek jangka panjang untuk pengembangan platform mobile yang murni berbasis Linux. Misalnya SCH-i519 di tahun 2003 serta GT-I8320 (Vodafone 360 H1) dan GT-I6410 (Vodafone M1) di tahun 2009. Sementara Samsung mulai merilis smartphone Android pada tahun 2009 melalui GT-I7500 Galaxy dan GT-I5700 Galaxy Spica dan mulai mencapai kesuksesan melalui GT-i9000 Galaxy S di tahun 2010.

Kenapa Samsung tidak melanjutkan dengan melakukan kustomisasi pada OS yang sudah sukses, seperti yang dilakukan oleh Amazon terhadap Android?

Bagi sebagian orang kustomisasi atau forking OS dianggap lebih murah, namun sebenarnya dampaknya akan jauh lebih mahal dan juga tidak akan bisa menjamin masa depan. Menurut Andrew Till, wakil presiden senior dan kepala divisi mobile dari Symphony Teleca yang telah mitra Samsung selama 12 tahun dalam pengembangan LiMo (Linux Mobile) hingga TIZEN, Samsung adalah perusahaan yang paling berkepentingan dengan masa depan TIZEN karena platform ini bisa menghemat pengeluaran mereka untuk pengembangan produk mereka. Sebagai perusahaan elektronik konsumen yang memproduksi segala macam peralatan hiburan, komputasi dan rumah tangga, sebuah platform yang terpadu bisa mempercepat inovasi pengembangan hardware dan software secara bersamaan.

Jadi Samsung lebih memilih TIZEN daripada Android?

Beberapa perusahaan seperti Samsung, Intel, LG, Huawei, NTT DoCoMo, Vodaphone, Orange dan lainnya memilih berinvestasi di TIZEN karena itu bukan investasi tunggal buat mereka, melainkan investasi ganda. Menurut somebody, ada 2 keuntungan yang bisa didapatkan dari TIZEN yang tidak bisa diperoleh melalui Android:
  • TIZEN sebagai platform software tidak akan bisa 'dikunci' oleh siapapun, karena dalam TIZEN terkandung stack yang benar-benar open source.
  • Software kustomisasi mereka akan berjalan di atas TIZEN di mana mereka BISA dan AKAN mengunci interface-nya dengan peluang 99,9 %.

Di TIZEN Anda bisa memilih fitur dan layanan yang dibutuhkan saja dan/atau mengganti fitur dan layanan lainnya dengan milik Anda sendiri, banyak pilihan yang bisa dilakukan. Sebagai contoh Anda bisa membuat versi Android dari TIZEN yang 100% kompatibel dengan semua fitur dan aplikasinya. Berbeda dengan Android, TIZEN adalah murni Linux, dan menggunakan teknologi yang sama seperti distro Linux modern. 

Samsung juga tidak tergesa-gesa dengan proyek TIZEN mereka. Samsung lebih memilih untuk menunggu sampai semua berjalan dengan sempurna. Samsung lebih suka menunggu hingga semua teknologi tersedia dan cocok untuk diterapkan pada perangkat mobile, seperti systemd, Wayland, kdbus dan lainnya.


Maka dari itu, merilis smartphone sebelum TIZEN 3.0 hadir menurut somebody akan kurang bijaksana karena hampir semua teknologi baru yang diadopsi oleh Linux baru tersedia pada versi terbaru yang rencananya akan meluncur pada pertengahan tahun ini. TIZEN 2.x untuk profile mobile masih menggunakan x11, sementara TIZEN 3.0 sudah menggunakan Wayland yang jauh lebih ringan untuk semua profile.


Thanks for the tip, Olivier!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar