Selasa, 11 Maret 2014

Mengapa TIZEN bisa menjadi sangat menakutkan buat Apple?


Keputusan Samsung untuk menggunakan TIZEN sistem operasi non-Android, pada lini Gear untuk jam tangan pintar sebagian besar telah dipandang sebagai sebuah pukulan berat buat Google, pengembang Android. Jika Samsung mengadopsi TIZEN lebih luas dalam jajaran perangkat mobile - terutama jika TIZEN diperpanjang ke iterasi masa depan dari Galaxy Note dan model unggulan lainnya - maka itu akan memangkas pangsa pasar Android.

Samsung co-CEO JK Shin mengatakan ia ingin melihat TIZEN pada "segala sesuatu" yang dibuat oleh Samsung, termasuk smartphone.

Langkah tersebut akan (secara teori) mengalihkan 25% dari pangsa pasar Android di Amerika Serikat ke TIZEN, menurut comScore, dan mungkin pemangkasan yang lebih besar akan terjadi di negara-negara Asia seperti Jepang dan Korea. Itu akan meninggalkan Google hanya akan melayani sekelompok perusahaan yang lebih kecil yang juga menjual ponsel berbasis Android seperti HTC, LG dan Lenovo. (LG sebenarnya juga sudah menyiapkan webOS milik mereka sendiri sebagai alternatif Android).

Namun cara lain untuk melihat strategi Samsung buat TIZEN adalah untuk mempertimbangkan dari sudut pandang Apple, dan bertanya apa Samsung ingin dalam hal pertempuran mereka tidak pernah berakhir dengan iPhone, iPad dan sistem operasi mobile iOS yang dijalankannya.

TIZEN telah memecahkan sepasang masalah buat Samsung

Untuk Samsung, ada dua faktor kompetitif yang sangat besar bersembunyi di balik TIZEN:
  1. Apple belum memiliki sistem operasi untuk "wearable" - jam tangan pintar, kacamata pintar dan berbagai gadget rumah tangga yang terhubung. TIZEN telah berhasil menempatkan Samsung di depan permainan dalam hal membangun sebuah sistem untuk "Internet of Things." TIZEN juga lebih hemat daya untuk penggunaan baterai daripada Android, menurut beberapa sumber.
  2. Di negara berkembang, pangsa pasar Samsung bisa dengan mudah dimakan oleh produk tiruan perangkat Android murah dari China - smartphone yang harganya hanya $35 itu, ditujukan bagi pengguna low-end, hanya cukup baik untuk mencegah konsumen dari menghabiskan uang sebesar $700 untuk membeli produk high-end unggulan Samsung Galaxy Note 3. Menjaga merek Galaxy pada Android bisa membuat Samsung rentan terhadap persaingan harga dari China.

Tentu saja, Samsung bisa membuat smartphone Android yang bagus, murah, kompetitif untuk pasar low-end. Tapi Samsung adalah sebuah perusahaan publik, dan dengan demikian perlu meraup semua keuntungan yang mereka bisa. (Jika Anda memiliki saham pada sebuah perusahaan elektronik, Anda pasti tahu keuntungan yang tinggi tidak datang dari membuat perangkat murah.)

Jadi Samsung tampaknya telah membuat keputusan tentatif: setelah terpojok dengan penguasaan 32% dari pangsa pasar ponsel global - jauh lebih banyak dari Apple - sekarang mereka perlu memastikan bahwa sahamnya, dan margin keuntungannya, bisa terlindungi dari kedua kompetisi masing-masing high-end dari Apple dan low-end dari China.

Samsung sudah di depan Apple dalam banyak cara

Bagaimanapun masih kurang jelas bagaimana TIZEN akan membantu Samsung menangkis Apple. Jadi...anggap saja bahwa Samsung lebih gesit dari Apple dalam banyak cara.

Samsung meluncurkan perangkat pertama dalam bisnis jam tangan pintar. Mereka telah meluncurkan tiga iterasi yang berbeda dari smart watch untuk seri Gera. Dua yang terakhir menjalankan OS TIZEN.

Sementara Apple masih belum meninggalkan persiapan awal pada jam tangan.

Sekarang perhatikan bahwa Samsung juga telah memimpin persaingan pada ponsel berukuran besar yang sering disebut "phablet." Orang-orang tertawa ketika pertama kali ponsel raksasa Glaxy Note diluncurkan. Tapi jika Anda bicara kepada pengguna Galaxy Note dan Anda akan mendengar, berulang-ulang, betapa mereka mencintai layar besar mereka.

Sekali lagi, Apple menemukan dirinya terjebak dalam 'Munchkin Land' ketika berurusan soal layar. (Bahkan iPhone 5 adalah versi runner-up Apple untuk ponsel layar besar.)

TIZEN sedang dibangun oleh sebuah konsorsium open-source yang didukung oleh Samsung, Intel dan sekelompok operator nirkabel - dan tidak ada Google. Sebagai mitra pengembangan yang dominan, Samsung akan bisa memutuskan seberapa cepat TIZEN akan diperbarui. Mereka tidak lagi harus menunggu Google (yang, seperti Apple, masih belum meluncurkan versi wearable untuk sistem operasi Android ). Dan operator nirkabel (Orange, Sprint dan Vodafone) pasti akan mendukung format dimana mereka ikut terlibat dalam pengembangannya.

Ini adalah kunci karena Samsung memiliki sejarah inovasi yang lebih cepat dari Apple. Orang-orang mengkritik Samsung karena meluncurkan banyak produk, hanya untuk melihat banyak dari produk ini gagal. Tapi disisi lain terbukti bahwa Samsung sangat baik pada pengiriman produk baru dengan cepat - dan tidak peduli jika banyak dari mereka gagal selama segelintir, seperti seri Galaxy S dan Galaxy Note, menjadi sukses besar. Apple belum pernah mengirimkan format ponsel baru sejak 2012.

Akhirnya, Samsung juga telah membuat Smart TV selama bertahun-tahun. Apple belum pernah menjual satupun Smart TV (meskipun memiliki Apple TV untuk media player digital).

Tantangan $4 miliar bagi Apple.

Prototipe smartphone TIZEN dari Samsung telah mendapatkan banyak ulasan bagus dari media secara umum, maupun dari kritikus sebagian karena TIZEN terlihat dan terasa seperti Android, namun lebih cepat dan intuitif.

Hal ini penting: Samsung bisa mentransfer seluruh basis pengguna ponsel mereka ke TIZEN dan sebagian besar konsumen tidak akan melihat perbedaannya. Itu sepertiga dari seluruh pangsa pasar ponsel di planet bumi pada sistem operasi baru yang dikendalikan oleh Samsung dalam beberapa siklus produk.

Dalam skenario ini, Apple akan memiliki dua pesaing, Android dan TIZEN, bukan hanya satu.

Tantangan utama Samsung untuk melakukan hal ini bukanlah dari sisi teknis. Tapi lingkungan. Orang tidak suka Apple dan Android karena user-interface mereka. Mereka menyukainya karena apa yang bisa mereka lakukan - dan itu berarti aplikasi, seperti Facebook, Instagram dan Candy Crush Saga. Sementara mentransfer pengguna Samsung untuk TIZEN secara teknis mungkin akan mudah, namun itu akan menjadi masalah politik besar-besaran untuk membujuk ratusan ribu pengembang Android dan iOS untuk mengisi TIZEN STORE dengan semua aplikasi top yang diinginkan oleh konsumen. Jika Samsung tidak bisa mengelola hal ini mungkin akan berakhir seperti Windows Phone: sebuah perangkat yang indah namun tidak ada yang mau.

Ini, ternyata, adalah daerah lain dimana Apple harus gemetar: anggaran pemasaran Samsung adalah $4 miliar, di seluruh dunia - empat kali ukuran dari Apple. Perusahaan ini memiliki senjata yang lebih dari cukup untuk menjanjikan pengembang aplikasi sebuah eksposur dan kemitraan media jika mereka meluncurkan aplikasi mereka pada platform TIZEN.

Dan Samsung sendiri merupakan "platform" media, tentu saja. Ingat ketika Samsung membayar $5 juta untuk meluncurkan album baru Jay-Z, seperti sebuah aplikasi, pada smartphone Galaxy? Samsung sudah menciptakan lingkungan media non-Apple yang nyaman dengan Milk Music, pesaing baru dari iTunes Radio.

Hal ini perlu dapat dibayangkan jika pembuat aplikasi top seperti King dan Rovio - yang membutuhkan pendapatan baru dari sumber yang mereka bisa mendapatkan - akan bermitra dengan Samsung untuk meluncurkan aplikasi besar mereka pada ponsel baru Galaxy TIZEN.

Hal ini akan meninggalkan Samsung hanya bersaing melawan satu perusahaan - Apple - bukan selusin produsen Android lainnya. Dalam skenario ini, Android akan ditinggalkan hanya untuk pasar diskon low-end seperti yang diinginkan baik oleh Samsung maupun Apple, dan Samsung dan Apple malah akan membagi pasar premium bermargin tinggi di antara mereka.

Mimpi terburuk Apple

Dan sementara fanboy Apple mungkin menertawakan gagasan akan perangkat Samsung yang setara dengan Apple iPhone dan iPad, mereka mungkin ingin mempertimbangkan berapa banyak hal yng telah dimulai oleh Samsung untuk memperkuat basis konsumen mereka: Samsung telah menumbuhkan pangsa pasar tablet mereka, sementara pangsa pasar Apple - walaupun masih diatas - terus menurun. Apple pernah memiliki 50% dari pangsa pasar tablet pada tahun 2011. Sekarang mereka hanya memiliki sepertiga dari penjualan.

Samsung, dilain pihak, berhasil meningkatkan tiga kali lipat pangsa pasarnya di periode yang sama.

TIZEN melalui Samsung akan bisa mengancam untuk membuat yang baru, sebuah semesta yang menakutkan bagi Apple. Salah satu di mana musuh utamanya bukanlah platform gratis yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan iklan yang tidak membuat ponsel. Sebaliknya, Apple akan menghadapi musuh yang memiliki keunggulan platform yang sama, tetapi dengan dua perbedaan yang mengerikan: rekor inovasi yang lebih cepat dan anggaran iklan yang lebih besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar