Senin, 10 Maret 2014

Bagaimana operator telekomunikasi bisa mengambil peran di era Internet of Things


Internet of Things (IoT) telah menjadi topik hangat untuk saat ini, tetapi belum ada penyedia solusi yang telah benar-benar menemukan sebuah model bisnis yang berkelanjutan untuk mendapatkan keuntungan dari pasar yang sedang berkembang ini.

Saat ini ada enam juta perangkat pintar atau smart device di pasar global. Cisco dan Ericsson memperkirakan jumlah itu bisa meningkat menjadi 50 miliar pada 2020, untuk memperpanjang istilah "Internet of Things" menuju "Internet of Everything (IoE)", termasuk machine-to-machine (M2M), machine-to-person dan person-to-person. Menurut Cisco, antara tahun 2013 dan 2022, senilai $14,4 triliun akan didistribusikan di bidang ini, tetapi masih belum jelas siapa saja yang menjadi pemain disini.

Membawa solusi pintar untuk hidup membutuhkan objek dan jaringan yang pintar juga, serta berbagai layanan pendukung. Rantai nilai untuk solusi pintar penuh dengan pemain telco, produsen produk, utilitas, hardware dan sistem integrator dan pemain over-the-top (OTT). Selain itu, juga pelaku pasar yang memperluas ruang lingkup mereka untuk menangkap keuntungan di pasar sebanyak mungkin.

Operator telekomunikasi juga tergoda untuk memperluas posisi benteng mereka saat ini sebagai operator jaringan karena meningkatnya tekanan harga dalam layanan suara dan data yang mengurangi margin mereka secara dramatis. Layanan di luar konektivitas adalah kesempatan besar untuk mengamankan pendapatan tambahan dan meraih pangsa lebih besar dari nilai keseluruhan yang dibuat.

Berikut ini beberapa pilihan dan peluang yang bisa diambil oleh operator telekomunikasi untuk memperluas ruang lingkup mereka di era IoT.

1. Tetap berperan sebagai operator jaringan

Mengoperasikan jaringan adalah kemampuan inti dari telco, dan sangat logis untuk menjadi pilihan pertama buat mereka untuk menjadi solusi pintar. Model bit-pipe murni memang tidak menciptakan diferensiasi yang berkelanjutan, oleh karena itu perusahaan telekomunikasi harus memikirkan kembali pendekatan mereka untuk objek pasar yang pintar, baik dari segi penawaran layanan dan diferensiasi.

2. Eksploitasi aset inti untuk menjual layanan

Operator telekomunikasi global mulai memposisikan diri sebagai penjual layanan dengan berhasil menggunakan berbagai aset mereka. Operator umumnya bisa menempatkan dengan baik dalam hal pengelolaan aplikasi melalui jaringan dengan tingkatan kualitas layanan yang terdedikasi. Mereka juga mampu mengembangkan aplikasi dan alur kerja platform mereka sendiri.

3. Masuk ke integrasi sistem secara selektif

Operator besar bisa aktif dalam integrasi fisik untuk modul pintar menjadi objek pintar, termasuk sertifikasi hardware. Operator telekomunikasi, dalam hal apapun, harus mempertimbangkan integrasi objek pintar dengan platform dan aplikasi. Operator bisa menyediakan application programming interfaces (API) yang memungkinkan pengembang untuk membangun solusi, dengan cara yang mirip dengan toko aplikasi dalam lingkungan smartphone.

4. Memberikan dukungan buat produsen objek pintar dengan layanan pengadaan

Kebanyakan solusi untuk pasar massal gagal karena proses pengadaan yang tidak memadai. Operator telekomunikasi, dalam hal ini, dapat mendukung produsen objek pintar dengan kompetensi inti, seperti layanan pengadaan, penagihan dan manajemen siklus hidup pelanggan.

5. Bertindak sebagai penyedia layanan white-label

Operator telekomunikasi bisa bertujuan untuk menjadi penyedia layanan untuk produsen objek pintar, mengelola konektivitas, yang mengaktifkan, integrasi dan penyediaan layanan. Mereka dapat bertindak sebagai penyedia white-label, menawarkan solusi untuk lebih dari satu pelanggan dalam suatu industri tertentu.


Munculnya pelaku pasar dalam solusi pintar bisa memberikan arahan untuk penyebaran industri dan memungkinkan manfaat dari skala yang luas. Ketimbang bersaing, perusahaan telekomunikasi dan pemain dari industri vertikal harus menemukan cara baru dalam kemitraan. Hal ini akan memerlukan kerja dalam dua dimensi.

Pertama, mereka akan perlu menemukan lingkup ekonominya. Sementara setiap pasar pengguna akhir (end-user) memiliki kebutuhan yang berbeda untuk solusi pintar, mereka memiliki banyak fungsi dan layanan yang sama, seperti lokalisasi, messaging dan manajemen identitas pelanggan. Ini bisa dikembangkan sekali dan ditawarkan melalui satu platform yang sama.

Kedua, perusahaan telekomunikasi harus memiliki keberanian untuk terlihat berbeda pada aset inti mereka, yaitu jaringan, dengan menjadi pengaktif jaringan. Hal ini akan merangsang munculnya aplikasi misi kritis yang saat ini tidak dapat ditawarkan karena kurangnya layanan diferensiasi pada jaringan. Selain itu, perusahaan telekomunikasi harus berkembang dari jaringan ke penyedia konektivitas, mengelola jaringan dan layanan yang berbeda dari satu lokasi.

Operator telekomunikasi dan pelaku industri harus bisa memutuskan bersama apa yang menjadi kekuatan untuk digunakan dalam rantai nilai, di mana mereka harus bekerja sama dan di mana mereka bisa bersaing satu sama lain. Jika perusahaan telekomunikasi tidak mengambil perkembangan ini dengan serius dan bergerak cepat, para pemain OTT, seperti Google, Facebook, Twitter, Whatsapp, Line, Skype dan lainnya akan mengambil alih posisi mereka sekali lagi seperti di era smartphone.


Via Telecom Asia Magazine February/March 2014(PDF White Paper)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar