Jumat, 10 Januari 2014

Smartphone TIZEN pertama Samsung kemungkinan tidak akan dirilis di Amerika


Samsung Electronics kemungkinan tidak akan membawa smartphone pertama mereka yang menjalankan sistem operasi TIZEN ke pasar Amerika Serikat (AS).

Ryan Bidan, direktur pemasaran produk untuk Samsung AS, mengatakan bahwa Samsung belum mengumumkan sesuatu yang spesifik terkait dengan TIZEN untuk pasar AS, tetapi meskipun begitu Samsung akan terus bekerja pada perangkat.

"Kami tidak merasa AS adalah tes pasar yang baik bagi jenis produk ini," katanya, yang mencatat bahwa Samsung kemungkinan akan menggelar smartphone TIZEN di daerah lain di dunia. "Pasar AS sudah terlalu matang. Membawa pendatang baru ke sini yang belum memenuhi barr kinerja tertentu akan menjadi sebuah tantangan. Menyadari hal ini, kita tidak ingin membuat suatu kegagalan."

Walaupun begitu keputusan akhir tetap berada di Korea, dimana markas besar Samsung berada. Selain itu, perangkat Samsung tidak hanya smartphone. Smart Camera NX300 yang berbasis TIZEN telah dirilis di AS, dan kemungkinan besar juga TIZEN TV yang akan datang karena besarnya pangsa pasar Smart TV Samsung di sana.

Dalam wawancara untuk membahas masalah yang lebih luas, Bidan menyebutkan bahwa perusahaannya harus berinovasi pada software serta hardware agar bisa berbeda dengan pesaingnya. "Ini benar-benar arah yang benar bagi kita. Kesempatan kita untuk berbeda dan menciptakan produk yang benar-benar rapi untuk konsumen terletak pada solusi produk yang holistik - hardware dan software," katanya.

Pada saat yang sama, Bidan mengakui bahwa Samsung telah banyak berinvestasi dalam berbagai fitur software untuk perangkat seperti smartphone Galaxy S4, tetapi dengan begitu banyak fitur yang diciptakan, konsumen bisa dengan mudah kehilangan jejak dan tidak menggunakannya. Bidan memperkirakan bahwa ketika Samsung meluncurkan S4 pada bulan Maret tahun lalu, tidak kurang dari 80 fitur software baru telah disematkan kedalamnya, mulai dari "Air View," yang memungkinkan pengguna untuk mengibaskan jari-jari mereka di atas layar untuk melihat isi email, galeri foto atau video tanpa harus membukanya, hingga layanan penejemah "S Translator" yang mendukung bahasa Inggris, Mandarin, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Portugis dan Spanyol, baik untuk penggunaan speech to text dan text to speech.

"Ini sesuatu yang kita perjuangkan sepanjang waktu," katanya, yang mengacu pada bagaimana Samsung bisa terus mendorong inovasi software tanpa membuat begitu banyak kekacauan hingga bisa menghilangkan minat konsumen. "Dibutuhkan sejumlah disiplin untuk membawa fokus lebih ke dalam." Tahun ini, Bidan mengatakan, Samsung akan lebih fokus pada "menyempurnakan hal-hal yang kita bicarakan sebelumnya dan menjadi lebih fokus dalam membawa pesan kita membawa ke konsumen" karena ada kemungkinan hanya segelintir fitur yang bisa memberi makna buat konsumen.

Namun begitu, perilaku konsumen di tiap negara sangat berbeda, begitu juga dengan fitur yang diinginkan. Di negara berkembang dimana prinsip ekonomi masih menjadi faktor utama dalam membeli barang, kebanyakan konsumen lebih menginginkan fitur yang berlimpah dengan kebebasan yang lebih dalam memperlakukan dan mengkustomisasi perangkat mereka sesuai kebutuhan.

Sementara di negara maju dengan penduduk yang super sibuk, konsumen lebih menginginkan perangkat yang sederhana namun mewah untuk memenuhi gaya hidup yang berkelas. Konsumen yang seperti ini lebih memilih untuk mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli fitur yang diinginkan daripada mengeksplorasi fitur gratis yang mereka tidak tahu fungsinya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar