Minggu, 15 Desember 2013

Samsung kembangkan teknologi biometrik untuk solusi keamanan buat smartphone


Layar smartphone akan menyala dalam dua detik setelah pengguna menatap pada sensor dekat kamera yang tidak akan pernah bereaksi terhadap mata orang lain. Itu semua dimungkinkan karena sensor pengenalan iris yang bisa memahami dan proses pre-registrasi dari pola iris yang berbeda untuk setiap orang.

Simulasi ini adalah gambaran dari teknologi masa depan yang akan segera direalisasikan di masa depan dan akan diterapkan oleh Samsung Electronics, yang berencana untuk meluncurkan smartphone yang dilengkapi dengan teknologi pengenalan iris. Perusahaan teknologi Korea ini memperoleh paten untuk teknologi ini pada bulan Mei 2012. Sebelumnya Samsung telah mengenalkan teknologi "Smart Stay" pada smartphone Galaxy S3 dan S4, sebuah teknologi pengenalan wajah versi dasar yang akan menghidupkan lampu layar asalkan pengguna melihat layar itu.

"Apakah kita bisa menanamkan teknologi ini pada ponsel kita mendatang atau tidak tergantung pada apakah kita bisa menekan sistem pengenalan ini untuk bisa masuk ke dalam smartphone yang ber-body ramping," kata seorang pejabat dari Samsung Electronics.

Teknologi keamanan baru berdasarkan biometrik ini telah siap untuk segera dikomersialkan di Korea, yang tumbuh akibat munculnya kekhawatiran atas informasi pribadi yang bocor dan dicuri. Menurut Departemen Keamanan dan Administrasi Publik Korea, kerusakan keuangan yang dikeluarkan oleh akses ilegal ke informasi pribadi melalui phishing dan penetrasi jaringan diperkirakan telah melebihi angka 4 triliun won setiap tahun.

Teknologi keamanan biometrik seperti pengenalan iris atau vena tidak dapat dengan mudah ditembus oleh pemalsuan atau pembajakan karena mereka tidak meninggalkan bekas seperti sidik jari. Duplikasi juga sulit dilakukan karena komposisi pola iris belum bisa dibaca secara teknis.

Menurut Badan Keamanan Internet Korea, pasar biometrik di negara mereka diperkirakan telah menyentuh angka 350 miliar won tahun lalu, hampir empat kali lipat 86,6 miliar won pada tahun 2010.

Pengenalan sidik jari (fingerprint recognition) adalah salah satu teknologi biometrik yang paling banyak digunakan. Apple iPhone 5S yang dirilis pada bulan September yang lalu mengandalkan tombol home baru yang dilengkapi teknologi pengenalan sidik jari untuk membuka kunci ponsel. Salah satu produk dari HTC juga memiliki fungsi ini. Begitu juga produsen smartphone terbesar ketiga di Korea, Pantech, yang mengembangkan teknologi pengenalan sidik jari sendiri yang ditampilkan pada smartphone terbarunya.

CrucialTec, perusahaan penyedia perangkat input mobile Optical Track Pad (OTP) terbesar didunia yang berkantor pusat di Suwon, Korea Selatan, untuk produsen handset seperti Research In Motion (kini BlackBerry), Samsung, LG, HTC, Sony Ericsson, Motorola, dan Pantech, juga telah mengembangkan Biometric Trackpad (BTP) yang merupakan penngenalan fungsi sensor sidik jari dengan penambahan teknologi Optical Trackpad teknologi OTP dari CrucialTec dan peningkatan status hidup secara umum dengan menyediakan tidak hanya hardware yang telah dioptimalkan tetapi juga terkait solusi. CrucialTec adalah salah satu dari 36 perusahaan yang tergabung dalam Partner Program dari Tizen Association.

Sistem pengenalan wajah adalah pengembangan lain dari teknologi biometrik. Samsung Galaxy S4 sudah mampu mengenali pupil dan wajah dari penggunanya. Teknologi saat ini juga bisa mengidentifikasi bentuk wajah dan area yang memisahkan antara bagian-bagian wajah yang besar dan tinggi dari setiap bagian wajah.


Perusahaan teknologi yang mengembangkan solusi keamanan milik Samsung, S1 (Security No.1), telah merilis sebuah sistem keamanan pengenalan wajah baru pada bulan April kemarin. Kamera keamanan terbaru kini bisa menangkap wajah yang lewat dalam waktu satu detik dan memungkinkan hanya orang-orang yang terdaftar yang bisa masuk. Alat ini juga bisa digunakan untuk mengelola pengunjung dengan mendaftar para pengunjung berdasarkan kategori yang telah dibuat sebelumnya seperti pengunjung biasa, VIP, pengunjung sementara dan pengunjung yang dilarang dilarang masuk secara otomatis.

"Kami sedang mengembangkan sebuah teknologi pengenalan jenis kelamin dan usia yang akan diterapkan untuk kamera. Sistem ini dijadwalkan untuk dikomersilkan tahun depan," kata seorang pejabat di S1.

Beberapa pengamat teknologi mengatakan bahwa sistem keamanan biometrik tidak akan menjamin 100 persen aman. Namun semakin canggih dan matang teknologi itu, maka semakin kecil kesalahan yang akan dibuatnya.


Via S1


Tidak ada komentar:

Posting Komentar