Minggu, 01 Desember 2013

Game HTML5 mulai menggeser keberadaan toko aplikasi native


Anda masih ingat di tahun 90-an ketika video game hadir dalam bentuk cakram disk dan butuh waktu berjam-jam hanya untuk men-download sebuah game pada komputer Anda? Teknologi ini berumur pendek karena hal kecil yang disebut "internet" datang dan video game mulai beralih ke media online. Pengembang game muali berpikir bahwa portal online untuk gaming adalah masa depan sampai toko aplikasi yang dipelopori oleh Apple datang, dan setiap pengembang dan perusahaan besar mulai membangun aplikasi video game native untuk dijual lewat toko aplikasi. Sayangnya, toko aplikasi memiliki masalah kecil yang disebut pencarian, yang berarti ada begitu banyak aplikasi, ada banyak game bagus yang berjumlah ribuan hingga ratusan ribu.

Untuk alasan ini, banyak perusahaan-perusahaan besar seperti Amazon, HBO dan Disney yang kini mulai beralih kembali ke game online. Mengapa? Karena sangat masuk akal jika dinilai secara bisnis. Pertama, browser sekarang tidak seperti yang ada di tahun 90-an. Dengan revisi kelima dari standar HTML, HTML5 diciptakan, game online telah maju dalam bidang seperti animasi dan video. Aplikasi yang dibangunan di atas HTML5 juga lebih efektif dalam masalah biaya dan telah memungkinkan perusahaan untuk menyediakan konten yang menarik kepada pengguna mereka pada perangkat mobile, tanpa harus memaksa mereka untuk meninggalkan situs mereka untuk pergi ke toko aplikasi seperti Apple App Store atau Google Play.

TreSensa, pengembang game mobile web yang berbasis di New York, baru-baru ini membangun sebuah game untuk HBO berjudul “True Survival” yang dibuat berdasarkan pada sebuah acara TV yang laris di stasiun ini "True Blood." HBO memiliki 10 juta penggemar di Facebook dan 500.000 pengikut Twitter untuk acara ini dan ingin membuat game untuk penggemarnya. HBO bisa saja menghadirkan aplikasi native, tetapi kemudian lebih memilih game HTML5 sebagai gantinya.

"Untuk portal online dari sebuah perusahaan media - dimana mereka sudah memiliki penonton - hal terakhir yang Anda ingin lakukan adalah membuangnya di pelukan Apple atau Google," kata Robert Grossberg, CEO dari TreSensa. "Klik dan pergi ke Apple, dan tiba-tiba semuanya dikendalikan oleh Apple. Perusahaan-perusahaan media ingin menjaga pengguna mereka tetap di sana - dan Anda dapat menjaga mereka untuk tetap di situs Anda dan menempatkan sebuah permainan di sana."

Ledakan pertumbuhan perangkat mobile juga membuat gamer tidak bisa lepas dari smartphone atau tablet.

"Lebih dari 40% dari waktu yang digunakan oleh seseorang pada perangkat smartphone miliknya dihabiskan untuk bermain game - dan pada tablet sebesar 67 persen," kata Grossberg. "Tablet benar-benar telah mengambil alih untuk penggunaan komputer - dan negara-negara berkembang, di mana orang tidak pernah memiliki komputer, namun ada tablet Android yang benar-benar terjangkau di luar sana, jadi itu benar-benar menjadi cara di mana orang mengkonsumsi media dan menghubungkan dengan orang-orang di seluruh dunia."

Sementara nafsu untuk memiliki perangkat mobile di negara-negara berkembang sangat besar, sementara untuk data relatif masih lebih mahal. Dan sementara harga smartphone terus menurun hingga dibawah harga 1 juta-an, harga untuk data tidak mungkin jatuh dengan cepat, sehingga meskipun sebagian besar orang sudah mengadopsi smartphone di negara-negara berkembang, mereka tetap tidak akan mampu membayar untuk menjalankan banyak aplikasi yang membentuk pengalaman pada smartphone. Sementara ponsel mungkin tidak memiliki banyak bandwidth, namun satu hal dimana semua ponsel memilikinya adalah browser.

Amazon, misalnya, telah mulai memfasilitasi tren ini. Pada konferensi pengembang mereka yang diadakan di Las Vegas pada awal bulan November kemarin, Amazon mengumumkan "Workspace," sebuah rencana untuk menyediakan komputasi desktop untuk semua perangkat mobile di dunia. Selain itu, mereka mengumumkan "AppStream," layanan baru yang memungkinkan pengembang untuk melakukan streaming aplikasi high-end mereka ke perangkat yang mungkin tidak dinyatakan mampu menangani kekuatan pemrosesan yang diperlukan.

"Amazon telah membuat komitmen besar untuk web mobile dan aplikasi web, kami salah satu mitra data dengan mereka," kata Grossberg. "Amazon ingin semua orang bisa menjangkau semua orang pada perangkat apapun di mana saja - dan lingkungan yang ada saat ini di mana Anda memiliki toko aplikasi benar-benar tidak pas dengan tujuan mereka secara keseluruhan, jadi mereka membuat dorongan besar di web mobile."

Mereka bukan satu-satunya. Sprint, Verizon dan operator lain telah meluncurkan toko permainan mereka sendiri pada perangkat baru. Browser seperti Firefox juga memiliki toko aplikasi HTML5 baru dan ada sejumlah perusahaan lain di belakangnya, diantaranya UC Browser dari China dan Google Chrome. Samsung dan Intel juga mencoba untuk membuat sistem operasi yang baru TIZEN yang mengandalkan aplikasi berbasis HTML5 untuk pengembang. Bahkan, kedua perusahaan berusaha untuk memikat para pengembang untuk membuat aplikasi HTML5 untuk TIZEN dengan menawarkan hadiah tunai sebesar $4 juta kepada para pencipta aplikasi TIZEN terbaik.

Jadi jika Anda masih meremehkan keberadaan HTML5, Anda mungkin perlu memikirkan kembali kesimpulan itu.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar