Minggu, 15 Desember 2013

Bagaimana HTML5 jatuh, terpuruk dan bangkit kembali


Pada bulan April tahun 2010, Steve Jobs menulis surat terbuka yang berjudul "Thoughts on Flash" di mana ia menyatakan "sebuah standar baru yang terbuka yang diciptakan di era mobile seperti HTML5, akan menang". Facebook tampaknya kemudian memvalidasi pemikiran Jobs ketika rumor datang dari inisiatif utama yang disebut Project Spartan yang akan membuat aplikasi Facebook sepenuhnya didasarkan pada HTML5.

HTML5 adalah hal besar berikutnya, the next big thing. Pemersatu. The Holy Grail. Membuat kode sekali, untuk membuatnya bisa berjalan di mana-mana. Itu janjinya.

Hip, Hop, Hype & HTML5

Dan ketika hype dan harapan yang berputar di sekitar HTML5 terus meningkat, mark-up language dan penetapan standar web kemudian diumumkan oleh World Wide Web Consortium (W3C) dan diadopsi oleh sebagian besar dari semua browser utama selama empat tahun terakhir.

Ini adalah kondisi selama periode tahun 2011 dan 2012 dimana startup banyak bermunculan dalam segmen penerbitan, game, jasa keuangan, dll, yang menggembar-gemborkan HTML5 sebagai kunci untuk penawaran mereka, sehingga menarik banyak investor yang membeli dan menginvestasikan uang mereka untuk mendukung pengadopsi awal dari HTML5.

Dan selama periode waktu yang sama, perdebatan yang tak terelakkan telah mulai. Siapa yang akan menjadi pemenang pada perangkat mobile - aplikasi native atau HTML5? Hal ini semakin diperkuat oleh sebagian besar orang bahwa pemenang akan menguasai segalanya, a winner takes all.

Pada musim panas tahun 2012, Facebook meninggalkan aplikasi mobile berbasis HTML5 karena masalah kinerja. Project Spartan sudah mati. Beberapa bulan kemudian, Mark Zuckerberg mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa "mereka bertaruh terlalu banyak pada HTML5 sebagai lawan dari native" untuk pengembangan aplikasi adalah sebuah kesalahan terbesar yang telah dilakukan oleh Facebook. Karena masalah ini, maka sudah dianggap tidak keren lagi untuk membicarakan tentang HTML5. Kita telah memiliki pemenang debat Native vs HTML5 dengan kemenangan KO. HTML5 sudah mati! Hidup Native!

HTML5 & Palung Kekecewaan (The Trough Of Disillusionment)

Evolusi dan perjalanan HTML5 yang telah dijelaskan di atas sangat umum dengan teknologi yang tumbuh dan disruptif. Kebenarannya? HTML5 masih jauh dari kematian. Gartner Research telah menganalisis pola yang terkait dengan adopsi teknologi baru dan dijuluki sebagai "Hype Cycle". Lihat tabel di bawah untuk mengetahui tahapan yang berbeda dari siklus ini. HTML5 telah naik pada kurva yang sama ini, dan hampir ke tee (tempat memulai permainan).


Ketika HTML5 menerima hype besar dari raksasa industri, itu masih merupakan teknologi yang masih baru lahir dengan banyak lubang. Mereka belum siap untuk prime time. Alih-alih mengakui fakta ini dan memperbaiki aplikasinya, banyak perusahaan yang menggelar proyek ambisius berbasis HTML5 akhirnya sangat kecewa dan kemudian mulai bersikap kritis ketika harapan mereka tidak terpenuhi.

Stabilitas & Adopsi

Meskipun berbagai kegagalan berprofil tinggi, semua manfaat dari HTML5 yang dulu mulai hype di tempat pertama tidak secara ajaib menghilang. Selama 18 bulan terakhir banyak lubang dalam teknologi ini telah terpasang sebagai sistem operasi, browser mobile dan perangkat telah ditingkatkan dan menjadi lebih kuat dengan peningkatan fungsi HTML5 yang terkait pada setiap rilis barunya. Orang-orang juga mulai mengganti smartphone mereka cukup sering, sehingga sebagian besar pengguna smartphone dan tablet sekarang memiliki perangkat yang jauh lebih cocok dalam mendukung HTML5.

Di bawah ini adalah grafik dari akhir tahun lalu yang menunjukkan kemajuan fitur HTML5 dalam browser utama. Keadaan ini sudah jauh lebih baik di tahun 2013.


Dan sementara beberapa perusahaan teknologi dan game besar sudah bersumpah untuk meninggalkan HTML5 ketika harapan mereka sebelumnya yang hancur lebur, perusahaan besar yang lain terus melangkah untuk merangkul HTML5. Mereka adalah perusahaan-perusahaan seperti Disney, NBCU dan Viacom dan merek seperti Progressive Insurance dan HBO. Mengapa mereka memilih HTML5? Alasannya sangat sederhana dan masuk akal secara bisnis. Membuat aplikasi dengan HTML5 dinilai sangat efektif dalam biaya dan telah memungkinkan perusahaan-perusahaan ini untuk menyediakan konten yang menarik kepada pengguna mereka pada perangkat mobile dengan cara yang unik tanpa harus mengirimkan konten mereka ke pelukan Apple atau Google. Ini adalah bagian dari daya tarik awal untuk HTML5 dan nilai yang sekarang menjadi kenyataan.

Perusahaan teknologi lainnya seperti Mozilla, Samsung, Intel dan Amazon telah mulai mengembangkan platform HTML5 yang kini mulai muncul dari pengujian awal mereka. Musim panas ini Amazon mengumumkan kepada komunitas pengembang sebuah inisiatif aplikasi Web utama yang terkait dengan HTML5. Samsung dan Intel adalah sponsor utama dari sistem operasi open source TIZEN yang berbasis HTML5 untuk pengembangan ekosistemnya. Mozilla meluncurkan sistem operasi baru berbasis HTML5 di Brazil dan kemudian memperluas kehadirannya di Meksiko, Peru dan Uruguay.

Jika kita menggunakan metodologi Gartner, selanjutnya akan datang "Slope Of Enlightenment" atau lereng pencerahan setelah jatuh di titik palung kekecewaan (The Trough Of Disillusionment) sebelumnya. Perusahaan, saluran dan aplikasi mulai melakukan hal-hal yang berkaitan dengan HTML5 yang tak pernah terbayangkan beberapa tahun yang lalu. Seperti misalnya Kik - aplikasi mobile messaging yang populer dengan hampir 100 juta pengguna yang telah terdaftar - bertaruh pada HTML5 dan sekarang mendukung beberapa bentuk konten media yang kaya (video, game, meme) dalam layanan obrolan miliknya. Tidak perlu download dan instal seperti aplikasi native, karena bisa langsung dimainkan.

Apakah semua hype awal akhirnya membantu atau memperlemah kemajuan HTML5? Mungkin sedikit dari keduanya. Di satu sisi, hype membantu membawa HTML5 ke permukaan dan menyebabkan ribuan perusahaan untuk mengadopsinya buat produk dan layanan mereka. Pengadopsi awal yang mampu bertahan dari proses kejatuhan telah menemukan diri mereka dalam posisi yang patut ditiru untuk memanfaatkan keunggulan mereka.

HTML5 sekarang sudah semakin dekat dengan prime time dan semakin banyak sektor bisnis yang mencari HTML5 untuk memecahkan tantangan pasar yang mereka hadapi kedepannya. Ketika pendulum berayun dari HTML5 pada tahun 2012, itu berayun cukup jauh dan menakuti banyak inovator potensial. Namun seberapa panjang HTML5 menjauh karena pemilik harapan sebelumnya telah kecewa jika kemudian lebih banyak perusahaan yang datang dan mulai berfokus pada potensinya daripada kegagalannya?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar