Sabtu, 14 Desember 2013

Alibaba ingin membuat kacamata pintar berbasis TIZEN?


Jack Ma (马云), pendiri Alibaba Group (阿里巴巴集团), perusahaan e-commerce terbesar China yang berbasis di Hangzhou, pada hari Rabu kemarin mengunjungi Korea Selatan untuk bertemu dengan eksekutif Samsung Electronics termasuk Shin Jong-kyun (JK Shin), kepala divisi Information Technology and Mobile Communications (IM).

Sementara Samsung memilih untuk terus diam dalam menanggapi masalah ini, sumber-sumber di Korea mengatakan bahwa antara kedua pihak telah membicarakan banyak hal, termasuk ambisi Alibaba untuk memproduksi versi mereka sendiri dari Google Glass - sebuah wearable device berbentuk kacamata yang dilengkapi dengan optical head-mounted display (OHMD) yang bisa berfungsi layaknya komputer yang dapat dipakai kemana-mana.

Alibaba secara diam-diam telah membangun sebuah kacamata pintar atau smart glass dan dilaporkan sedang mencari produsen hardware yang tepat untuk mengkomersilkan produk ini di masa depan, yang mana juga akan membutuhkan dukungan dari banyak perusahaan IT kelas dunia termasuk Samsung.

"Ada chip memori, layar dan jenis-jenis hardware lainnya yang dibutuhkan untuk membuat produk ini keluar dari hanya sekedar konsep," kata salah seorang sumber yang dekat dengan masalah ini yang tidak mau meyebutkan namanya.

Jika Samsung setuju untuk memberikan teknologi mereka, dikhawatirkan akan muncul hal-hal yang bisa membuat masalah menjadi sedikit rumit kedepannya karena perangkat Alibaba akan langsung hadir untuk bersaing secara head-to-head dengan produk Google, yang saat ini masih menjadi salah satu mitra penting buat Samsung yang menyediakan sistem operasi (OS) Android buat smartphone seri Galaxy.

Samsung telah berulang kali berusaha membungkam rumor bahwa mungkin ada dampak dengan kemitraan mereka dengan Google sejak Samsung sangat ingin memiliki OS sendiri, dimana mereka telah bekerja pada OS TIZEN yang dalam banyak hal menargetkan pasar yang sama dengan Android. Namun, OS itu sendiri akan menjadi masalah karena Alibaba akan membutuhkan satu platform untuk menghidupkan perangkat mereka - sesuatu yang Samsung tidak dapat memberikannya.

"TIZEN mungkin akan salah satu solusi yang tepat untuk masalah ini, tapi apakah TIZEN sendiri sudah cukup matang untuk menjalankan smart glass adalah isu kesulitan lainnya yang bakal muncul," kata pengamat industri lainnya. Para pengemat berasumsi bahwa smart glass versi Alibaba akan menyediakan konektivitas bluetooth, serta jaringan komunikasi yang juga akan diperlukan.

Selama kunjungannya di Korea, Jack Ma dikatakan telah bertemu dengan para pejabat dan eksekutif perusahaan telekomunikasi lokal seperti KT, bersama dengan Naver, mesin pencari internet terbesar di Korea.

Alibaba sebelumnya ingin meluncurkan smartphone yang menjalankan OS mereka sendiri Aliyun melalui kemitraan dengan vendor Taiwan, Acer. Namun menjelang peluncurannya ke publik, Google kemudian memaksa Acer untuk membatalkan dukungan mereka kepada Alibaba dengan ancaman akan menarik lisensi Android buat Acer.

"Mitra kami diberitahu oleh Google bahwa jika produk mereka menjalankan OS Aliyun, Google akan menghentikan kerjasama terkait Android dan lisensi teknologi lainnya dengan mitra kami," menurut sebuah pernyataan e-mail dari Alibaba kepada CNET pada bulan September tahun lalu. "Kami menghormati dan memahami keputusan mitra kita untuk menunda pengenalan ponsel ini, dan cemas dengan dampak sengketa ini buat mitra kami."

Tentu saja Samsung sebagai penguasa 64 persen pangsa pasar Android berbeda dengan Acer. Google tidak bisa serta merta menggunakan tangan besinya disini, karena dampak jangka pendeknya akan bisa langsung berbalik ke mereka sendiri.

Sama seperti Google, Alibaba adalah raksasa internet, e-commerce dan software dunia yang pendapatannya bahkan jauh lebih besar dari gabungan dua kompetitor terdekat mereka, eBay dan Amazon.com. Menurut majalah The Economist, perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma pada tahun 1999 ini memiliki nilai lebih dari $120 milyar pada bulan Maret 2013 dengan 24 ribu lebih karyawan yang tersebar di seluruh dunia. Alibaba saat ini sudah menggunakan big data untuk menyimpan data perdagangan dan pelanggan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar