Sabtu, 19 Oktober 2013

Samsung menghadapi era paska Android


Para kritikus menilai kinerja dari manajemen Samsung mulai menurun sejak kuartal ketiga 2013. Meskipun Samsung sedang mencoba untuk memperkenalkan banyak hal baru untuk meningkatkan bisnis mereka, namun industri ini seolah melihat mereka dengan ketidakpedulian. Mereka percaya bahwa proses harus diawasi dan improvisasi untuk jangka waktu tertentu harus dievaluasi. Sudah saatnya Samsung mengembangkan produk yang benar-benar mandiri untuk bisa mengubah pandangan orang bahwa mereka bisa menghasilkan produk yang benar-benar inovatif.

Sejak Samsung serius melangkah ke pasar smartphone berbasis Android, mereka telah memutuskan untuk membedakan diri dengan ukuran layar yang besar. Mereka mengeluarkan banyak produk dengan berbagai ukuran dan resolusi layar yang berbeda dan keunikan user interface (UI) pada setiap smartphone. Ini adalah strategi yang tak terelakkan bagi mereka karena semua konten dan aplikasi mengandalkan dari Google.

Sementara Apple terus berkembang dengan strategi yang berbeda. Mereka melengkapi diri dengan standar bentuk dan desain sendiri, aplikasi terpilih, dan layanan konten yang berbeda, yang bisa didapatkan karena mereka melakukannya semua sendiri.

Langkah inovasi pertama yang coba dijalankan oleh Samsung untuk smartphone Android diterapkan pada produk Galaxy S2 dan Galaxy Note di mana mereka untuk pertama kalinya membawa user experience (UX) baru dan juga memperkenalkan fitur baru seperti pena sentuh (S Pen). Ukuran variabel yang dipasok sejauh ini tidak mempengaruhi UX buat para penggunanya. Tapi banyak hal telah berubah.

Menghadirkan kategori baru phablet ke pasar adalah ide lain untuk strategi inovasi pasar.

Namun, selain layar dan sedikit perbeda hardware, kategori lain seperti software, konten, maupun layanan masih sangat bergantung pada Google. Itulah sebabnya Samsung sedang mencoba untuk membuat perbedaan juga di sisi software melalui produk terbaru mereka, 'Galaxy Gear'.

Namun, dalam hal 'kelengkapan/finishing', Galaxy Gear dinilai sebagai kegagalan karena tidak memiliki perbedaan besar dengan fitur dari sebuah smartphone. Juga produk terbaru lainnya, Galaxy Round sebagai produk smartphone pertama di dunia dengan layar melengkung melalui penggunaan layar fleksibel. Produk ini menerima baik pujian dan kritikan. Hal ini menunjukkan lagi bahwa inovasi yang didasarkan pada hardware adalah masalah utamanya.

Banyak orang juga mengkritik upaya Samsung untuk berinovasi tampaknya masih sangat terpengaruh oleh Apple. Karena Samsung dikenal sebagai 'copycat' dari Apple, banyak orang kemudian menebak kalau Samsung sengaja mencoba untuk mengubah citra mereka melalui banyak produk baru. Para ahli dan kritikus mengatakan bahwa jika Samsung ingin melangkah ke depan Apple, mereka harus datang dengan konten yang pintar dalam software, bukan hardware.

Dan sangat terlihat bahwa Samsung selalu menghadapi masalah terkait konten software. Itulah sebabnya mereka telah bekerja keras untuk merekrut banyak tenaga kerja baru untuk meningkatkan daya saing industri software mereka.

Samsung memberikan jaminan beasiswa dan pekerjaan masa depan untuk merekrut banyak mahasiswa sarjana dan pascasarjana baik di Korea maupun Amerika Serikat (AS). Proyek ini telah dimulai sejak 2011, dimana seluruh proyek berfokus dan hanya memiliki satu tujuan: mendapatkan karyawan yang cerdas dan pintar untuk mengembangkan software dan konten.

Namun, banyak ahli melihat bahwa model rekrutmen dan pendidikan terbuka seperti ini tidak akan menjadi solusi untuk membawa 'revolusi software'. Agar inovasi software bisa sukses, perusahaan harus bisa terhubung dengan sebuah perusahaan luar yang tidak memiliki koneksi lainnya. Karena sebagian besar pengembang software dan peneliti yang direkrut ditempatkan di kelas rendah perusahaan, dan mereka akan dikelola oleh manajer diatasnya, daripada berinovasi dalam software.

Tampaknya Samsung menyadari masalah seperti ini juga. Solusi yang diambil adalah menciptakan industri software dan konten seperti di Silicon Valley, serta komunitas pengembang domestik/internasional.

Ketika Samsung melakukan renovasi struktur internal di perusahaan mereka pada bulan Desember yang lalu, mereka telah menciptakan 'Creativity Developing Center’ dan ‘Creative Lab' untuk memproses sebuah ide menjadi produk dengan cepat. Samsung Open Innovation Center (SOIC) dan Samsung Strategy Innovation Center (SSIC) kemudian dipilih sebagai pendukung dari program ini.

Samsung Accelerator, SOIC dan SSIC memiliki faktor umum dimana mereka semua beroperasi secara individual pada diri mereka sendiri di Silicon Valley. Dan untuk seluruh wilayah AS, Samsung telah memperluas stasiun pengembangan dan mendistribusikan pekerja mereka, seperti yang ada di New York, Manhattan, Palo Alto, dll.

Wakil Presiden Samsung dan kepala dari SOIC David Eun pada upacara pembukaan Samsung Accelerator bulan lalu di New York mengatakan, "Masa depan kita terletak pada integrasi yang hati-hati dari hardware dan software. OIC akan fokus pada membawa inovasi di bidang software dan layanan."

Kebanyakan orang yang berada di komunitas pengembang dunia mengatakan kalau Samsung seharusnya berhati-hati dalam berinvestasi. Hal ini karena Samsung sebelumnya secara diam-diam dianggap telah meninggalkan seri smartphone 'Wave' yang didasarkan pada platform software Samsung sendiri 'bada'. Seri Wave pertama kali meluncur pada tahun 2010 dan terus berkelanjutan sampai tahun lalu, dengan menghasilkan satu produk unggulan baru setiap tahun. Seri ini berhenti pada tahun ini dan sebagai gantinya, Samsung berencana untuk merilis smartphone dengan sistem operasi 'TIZEN'.

Samsung menghentikan seri Wave dan tidak pernah mengumumkan bahwa mereka telah menghentikan pengembangan OS bada. Namun diketahui bahwa tim pengembangan untuk platform bada telah ditempatkan dan dimasukkan ke dalam tim pengembangan OS TIZEN.

Jadi tugas sebenarnya yang diemban oleh Samsung saat ini adalah untuk bisa secepatnya mengatasi batas kemampuan software mereka saat ini serta stereotip dan pandangan negatif dari para pengembang dari luar untuk perlakuan dan strategi mereka yang buruk di masa lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar