Senin, 21 Oktober 2013

Google perlahan tutup AOSP, Android akan menjadi ekosistem tertutup?


Ketika Android pertama kali masuk ke pasar, iPhone sedang dalam perjalanan untuk mendominasi pasar mobile dan Google harus membuat sebuah alternatif terbaik untuk menarik produsen smartphone. Keputusannya adalah untuk meluncurkan Android Open Source Project (AOSP) pada November 2007, dan menggunakannya sebagai sarana untuk mendapatkan layanan Google bisa sampai ke tangan pengguna perangkat mobile.

Google mengakuisisi Android dari Android Inc pimpinan Andy Rubin pada bulan Oktober 2003 karena ketakutan Google bahwa layanannya akan ditinggalkan saat era PC beralih ke mobile. Untuk menarik produsen perangkat mobile,Google menawarkan sistem operasi (OS) Android secara gratis beserta ekosistemnya. Produsen mobile kemudian mulai melirik Android untuk bersaing di era smartphone layar sentuh kreasi iPhone, dan meninggalkan OS lama seperti Symbian dan Windows Mobile yang sudah dianggap tidak kompetitif lagi.

Menawarkan OS yang gratis dan open source pada awalnya mengantarkan Android menjadi OS yang paling populer dan menguasai 80% dari pasar smartphone. Dengan penguasaan sebesar itu, ketakutan Google untuk ditinggalkan di era mobile sudah hilang, dan sekarang saatnya untuk melanggengkan status quo dengan mempersulit hadirnya alternatif untuk Android serta mengetatkan kontrol terhadap ekosistem dari OS miliknya itu.

Sebagai sebuah software, Android adalah open source, sehingga kode dapat dikloning atau di-'forking' untuk membuat versi lain dari Android menjadi sebuah OS baru yang kompatibel dengan jutaan aplikasi yang sudah tersedia pada Android. Dan faktanya, seseorang bisa membuat OS non-Google yang penuh sesak dengan aplikasi dalam satu hari. Banyak perusahaan China yang melakukan hal ini karena memang layanan Google diblokir oleh pemerintah lokal, tidak terkecuali perusahaan besar Amerika sekelas Amazon yang mengkloning Android menjadi Fire OS.

Android memiliki 80% dari pasar mobile tidak sama artinya Google memiliki 80% dari pasar mobile. Google tahu ini, yang mungkin tidak pernah terpikirkan dari awal ketika mereka meluncurkan Android karena situasi dan kondisi yang berbeda. Untuk mengamankan masa depannya dengan memastikan bahwa tidak ada yang membuat alternatif dari Android, Google mulai menutup ekosistem Android.

Beberapa aplikasi penting untuk Android masih bisa dibilang open source, tapi kemudian banyak sekali aplikasi versi closed-source dari Google diluncurkan untuk menggatikan versi open source yang mulai dihentikan. Karena sebuah aplikasi open source tidak akan benar-benar bisa mati, apa yang Google lakukan adalah dengan hanya memindahkan semua upaya pengembangan open source ke versi baru yang closed source dari aplikasi-aplikasi Android.

Setelah Google berhenti mengembangkan kode open source berarti setiap pesaing yang ingin membuat versi sendiri dari Android dengan menggunakan kode open source harus melakukan lebih banyak usaha atau dengan kata lain lebih sulit dan sekaligus memberikan Google kontrol sedikit lebih ketat atas Android.


Aplikasi closed source kebanyakan adalah yang sudah akrab bagi pengguna seperti: Gmail, Google Maps, Google Talk, YouTube, Google Hangouts, Play Store, Google Now.

Pada tahun-tahun awal keberadaan Android, Google memasukkan aplikasi-aplikasi ini ke dalam AOSP sehingga bagi Anda yang mungkin membeli perangkat Android di awal-awal akan melihat dua aplikasi email pada smartphone Anda, satu Gmail dan satu email, atau adanya dua aplikasi peta, dll - tapi segera setelah Google merilis versi proprietary, semua aplikasi versi AOSP ini dihentikan pengembangannya. Jadi terkesan setiap Google merilis sebuah aplikasi Android baru ke Play Store, itu pertanda bahwa kode source code sudah ditutup dan versi AOSP sudah dihentikan.

Beberapa aplikasi lain yang telah pindah menjadi aplikasi proprietray Google adalah Google Search, aplikasi Music, Calendar, Gallery, keyboard dan aplikasi kamera dan beberapa lainnya.

Google ingin memiliki kontrol yang lebih ketat pada produsen mobile. Para vendor hardware ini harus memiliki lisensi dari Google jika menginginkan aplikasi-aplikasi ini ada pada perangkat mereka. Jadi setiap produsen yang ingin Gmail, Google Maps, Google Now, Google Hangouts, YouTube, Play Store, Gallery, Calendar, aplikasi musik, kamera, keyboard dan lainnya perlu menjadi anggota dari Open Handset Alliance (OHA) - sebuah organisasi yang didirikan buat perusahaan-perusahaan yang "berkomitmen" untuk Android, dan bersedia menandatangani kontrak tidak untuk membangun sebuah perangkat yang menjalankan versi lain atau forking dari Android untuk bersaing dengan Google. Setiap perusahaan yang melanggar kesepakatan ini harus bersedia menutup usahanya atau kehilangan akses ke aplikasi Google.

Untuk perusahaan seperti Amazon yang memiliki layanan konten software sendiri atau perusahaan yang menjual smartphone mereka di China, keputusan Google ini tidak berpengaruh apa-apa karena mereka hanya butuh aplikasi Android selain dari Google. Namun bagi perusahaan seperti Samsung, Huawei, LG, ZTE maupun Sony yang menjual smartphone Android mereka untuk pasar global tentunya akan merasa gelisah menatap masa depan kelangsungan pasar mobile mereka yang tidak bisa dikontrol kepastiannya.


Khusus untuk Samsung, mereka saat ini adalah yang paling siap untuk meninggalkan "ekosistem Google di Android" karena sejauh ini mereka telah berhasil menghadirkan alternatif untuk hampir semua layanan dan aplikasi Google untuk Android. Namun tentu saja ini adalah solusi sementara karena untuk masa depan tentu saja mereka membutuhkan ekosistem lain yang lebih bebas dan menjanjikan. Tidak heran kalau para produsen Android mulai melirik alternatif lain, seperti Samsung dan Huawei ke OS TIZEN, serta LG, ZTE dan Sony ke Firefox OS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar