Sabtu, 05 Oktober 2013

Game mobile berbasis web mulai kuasai pasar game di Jepang


Tidak bisa dipungkiri Jepang adalah salah satu barometer perkembangan game dunia, dan siapa yang tidak kenal 9 ikon perusahaan game di Jepang: Nintendo, Sony, Sega-Sammy, Bandai-Namco, Konami, Takara-Tomy, Square-Enix, Capcom, Tecmo-Koei yang telah menciptakan banyak pasar game dunia, dan banyak dari gamer yang menyukai berbagai karakter dalam game kreasi mereka. Namun siapa yang menduga jika sekarang posisi mereka semakin terancam dengan hadirnya perusahaan-perusahaan game baru yang memfokuskan diri pada game berbasis web untuk perangkat mobile.

Berdasarkan perhitungan Financial Year yang berakhir 31 Maret 2013, untuk pertama kalinya, tiga perusahaan game pendatang baru di Jepang (GREE, DeNA dan Gungho) membukukan laba operasi yang lebih tinggi daripada kombinasi 9 perusahaan game ikonik penguasa industri game di Jepang diatas.

Dalam pendapatan operasional gabungan berdasarkan data Financial Year 2012 dari kombinasi 9 perusahaan game tersebuat adalah 67,6 miliar yen, sedangkan pendapatan operasional kombinasi dari 3 pendatang baru itu 174 miliar yen - meskipun untuk Gungho hanya dihitung berdasarkan 6 bulan pertama di tahun 2013.



Berdasarkan ukurannya, Nintendo memiliki bobot terbesar dalam kinerja keseluruhan di sektor game tradisional di Jepang. Nintendo secara dramatis akhir-akhir ini telah banyak dipengaruhi oleh pergeseran tren dari konsol game tradisional ke smartphone. Namun Nintendo (seperti juga perusahaan game ikonik Jepang lainnya) masih memiliki sumber daya yang luar biasa, kreativitas yang luar biasa, karakter dan merek yang dicintai secara global, dan cadangan dana yang besar. Jadi sepertinya Nintendo (dan perusahaan game Jepang lainnya) cukup tangguh untuk tidak serta merta akan mengalami resiko dan nasib seperti yang menimpa Nokia dan RIM/BlackBerry. Namun sebenarnya diam-diam telah terjadi konsolidasi substansial dalam sektor game di Jepang dalam beberapa tahun terakhir, dan tantangan yang dihadapi saat ini bisa menyebabkan terjadinya lebih banyak M&A (Merger & Akuisisi) di sektor game Jepang.

Ada tiga pemain baru yang penting - dari sekian banyak pendatang dalam industri game mobile di Jepang. Salah satunya adalah DeNA yang mengawali usaha sebagai kelompok lelang mobile, yang kemudian terus mengalami pertumbuhan yang kuat dan margin tinggi.

Dari ketiganya, GREE saat ini sedang menderita beberapa kemunduran dari model bisnis yang dijalaninya. GREE memulai usahanya sebagai platform SNS (Social Networking Service) dan game sosial untuk feature phone di Jepang yang mengandalkan layanan internet mobile seperti i-Mode, EZweb dan Yahoo-Mobile, di mana operator tradisional mengambil komisi sebesar 9%. Awalnya GREE mencoba untuk mentransfer model bisnis "platform on platform" ini ke negara-negara lain, tapi tampaknya tidak berhasil. Jadi GREE kini kembali ke game asli mereka, dan mulai mengalami kemunduran.

Sedangkan Gungho memulai kehadirannya lewat sebuah usaha patungan dengan perusahaan Amerika Serikat, tujuan dari usaha patungan ini adalah sebagai jalan buat perusahaan Amerika untuk memasuki pasar Jepang. Gungho kemudian memisahkan diri dari usaha patungan ini untuk kemudian menjadi perusahaan game online, dan menghasilkan serangkaian judul game, dengan tingkat kesuksesan yang tergolong biasa-biasa saja. Begitulah, sampai Gungho menciptakan "Puzzle and Dragons" yang tumbuh dengan spektakuler ini, sehingga laba usaha di periode Januari - Juni 2013 meningkat pesat 4.050,1% (empat ribu lima puluh koma satu persen) dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dan laba bersih meningkat 2.507,8% (dua ribu lima ratus tujuh koma 8 persen) dibandingkan dengan periode yang sama setahun yang lalu.

Menurut Gerhard Fasol dari Eurotechnology Japan KK, pergeseran tren ke smartphone telah memukul produsen game tradisional di Jepang dari semua sisi:
  • pergeseran dari TV ke tablet dan smartphone
  • pergeseran dari konsol game ke smartphone dan tablet
  • pergeseran dari feature phone ke smartphone
  • pergeseran model bisnis dari tipe kaset game tradisional seharga US$40-60 menjadi download game gratis dengan in-game purchases dan iklan
  • dan banyak lagi...




1 komentar:

  1. Thank you for translating our report/posts into Indonesian. You can find two of our recent posts about Japan's game sector here:
    http://www.eurotechnology.com/2013/10/07/gungho/

    http://www.eurotechnology.com/2013/10/04/japans-game-market-disruption/

    and our report on Japan's game sector here:

    http://www.eurotechnology.com/store/jgames/



    Gerhard in Tokyo

    BalasHapus